Rabu, 05 Januari 2011

Ilyas Karim

SOSOK: ILYAS KARIM
(Sang Pengibar Bendera Pusaka Bercelana Pendek)

Ilyas Karim (Celana Pendek)Bendera Pusaka Sampai menjelang peringatan 63 Tahun Indonesia Merdeka, tak banyak orang tahu siapa sebenarnya pemuda bercelana pendek yang mengibarkan bendera pusaka seusai proklamasi tahun 1945. Dia adalah Ilyas Karim dan masih ada di tengah-tengah kita.

Pagi itu, tanggal 17 Agustus 1945, Ilyas Karim dan teman-temannya dari Angkatan Muda Islam (AMI) sedang berkumpul di markas mereka, Jalan Menteng 31. Seperti biasa, anak-anak muda nasionalis itu selalu serius membicarakan situasi politik terakhir menjelang kemerdekaan Indonesia. Tanpa diundang, tiba-tiba datanglah Latief Hendraningrat, salah satu ChuDancho (komandan) PETA (Pembela Tanah Air) di Jakarta. ”Ayo, kamu semua ikut saya ke Pegangsaan Timur. Di sana mau ada keramaian!” ajaknya. Tanpa banyak komentar, bersama sekitar 50 orang anggota AMI, Ilyas bergegas. Sesampainya di sana, mereka segera bergabung dengan banyak orang yang sudah hadir lebih dulu. Cuaca pagi itu tidak begitu panas dan suasana di rumah besar itu tampak tenang. Daerah sekitar Pegangsaan Timur dijaga ketat oleh anggota PETA. Keluar dari dalam sebuah ruangan, Latief kembali menemui Ilyas. Tanpa basa-basi ia bertanya, ”Kamu bisa mengibarkan bendera nggak?” Ilyas yang saat itu tidak menggunakanalas kaki segera menjawab, ”Bisa Pak!” ”Baik, nanti kamu bertugas mengibarkan bendera bersama Singgih,” perintah Latief. Pada sekitar pukul sepuluh pagi, peristiwa bersejarah itupun terjadi. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pun dilaksanakan. Didampingi Bung Hatta, Bung Karno membacakan naskah Proklamasi yang menandai diumumkannya pernyataan kemerdekaan Indonesia di depan rumah nomor 56 itu. Tak lama setelah itu, Latief Hendraningrat Latief menuju ke pintu rumah Bung Karno. Dari tangan Ibu Fatmawati, Latief menerima sebuah bendera berwarna Merah-Putih. (Bendera yang dijahit sendiri oleh Ibu Fatmawati dari dua carik kain yang diperolehnya dengan susah payah itu kelak disebut sebagai bendera pusaka). Berbalik ke halaman, bendera itu diserahkan Latief kepada Singgih yang memakai seragam PETA (karena ia juga salah seorang ChuDancho) dan Ilyas Karim yang mengenakan celana pendek. Kedua pemuda itu segera menuju tiang bendera. Di depan tiang, Singgih meraih tali dan mengikatkan bendera. Setelah siap, Latief memberi aba-aba penghormatan kepada bendera dan seluruh hadirin memberikan penghormatan. Diiringi paduan suara sebuah sekolah yang menyanyikan lagu Indonesia Raya, Singgih menarik tali dan mengerek bendera Merah Putih naik perlahan ke puncak tiang. Ilyas memegangi bagian tali yang lain sambil mengulurnya mengikuti tarikan Singgih dan menjaga agar bendera berkibar tidak terjepit. Akhirnya, bendera sampai di puncak tiang. Dan itulah kali pertama bendera Merah Putih berkibar secara resmi sebagai bendera kebangsaan Republik Indonesia.

Ilyas KarimFoto Ilyas mengibarkan bendera kini terabadikan dalam buku-buku sejarah. Tubuh cekingnya tampak mengenakan kemeja dan celana pendek putih, sementara Singgih mengenakan seragam tentara lengkap. Bung Karno, Bung Hatta, dan Ibu Fatmawati mendongak ke atas menyaksikan bendera yang mulai naik ke puncak tiang. (Foto itu merupakan satu dari dua foto peristiwa proklamasi yang paling terkenal). Seusai upacara, Bung Karno mengajak hadirin masuk ke ruang tengah rumahnya untuk menyantap makanan ringan. Ilyas bergabung dengan tamu yang lain dan ikut makan kue, termasuk kue bolu yang didatangkan dari Senen. Bung Karno menghampiri Ilyas dan kawan-kawan sembari memberi wejangan. ‘’Kalian para pemuda. Belajarlah yang sungguh-sungguh. Kalau berdagang, berdaganglah yang sungguh – sungguh” ucap sang founding father. Namun, beberapa saat kemudian, ada yang menyuruh agar kue - kue dibawa keluar dan dimakan di halaman. Ternyata, itu hanya cara para pemimpin ”mengusir” hadirin secara halus dari dalam rumah. Bung Karno, Bung Hatta dan para tokoh politik kemudian mengadakan pertemuan di dalam rumah itu. Ilyas sendiri tak tahu apa yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut. Bersama teman-temannya ia ikut keluar ke halaman, lalu membubarkan diri setelah semua hadirin pulang. Sesampainya di rumah, Ilyas segera menemui ibunya dan menceritakan kalau tadi ia bertugas mengibarkan bendera Merah Putih di Pegangsaan Timur seusai Bung Karno membacakan naskah Proklamasi. Ibunya sangat gembira dan berkata, ”Syukur Alhamdulillah. Akhirnya kita merdeka juga, ya. Semoga apa yang kamu lakukan tadi dapat ridho dari Allah.”

Itulah sebuah pengalaman yang detilnya begitu lekat di kepala Ilyas Karim, sampai kini usianya mencapai 80 tahun lebih. Perannya sangat besar, walaupun di hari-hari seputar Agustus 1945 itu semuanya seolah ”lenyap” ditelan hingar-bingar suara mengelu-elukan Soekarno-Hatta dan kegembiraan mencapai kemerdekaan. “Saat itu, dari AMI ada 50 pemuda yang ikut ke Pegangsaan Timur 56. Saya juga tidak mengerti, mengapa akhirnya saya yang dipilih oleh Latief untuk ikut mengibarkan bendera. Barangkali, ini hanya keberuntungan saya,” katanya. Pada 17 Agustus 1945 itu, anak-anak muda AMI memang diberi tugas oleh Chaerul Shaleh untuk mengawal prosesi proklamasi kemerdekaan di Pegangsaan Timur. ChuDancho Singgih, yang saat itu tentara PETA, ditugaskan mengerek bendera. Latief Hendraningrat-lah yang kemudian menugaskan Ilyas membantu Singgih memegangi bendera. Dari 50-an pemuda AMI, kebetulan Ilyas yang paling muda, 18 tahun, dan badannya paling kecil. ‘’Dipikirnya saya yang paling gesit,’’ kata dia sembari terkekeh. Untungnya Ilyas punya pengalaman mengibarkan bendera ketika sekolah tarbiyah di Banten. Bedanya yang ia kibarkan saat itu adalah bendera Belanda. Lagunya pun lagu kebangsaan Belanda. Dipilih mengibarkan bendera saat proklamasi, kontan saja Ilyas merasa bangga Peristiwa itu mahapenting. ‘’Itu adalah titik balik bagi Indonesia dari bangsa budak menjadi bangsa merdeka. Dan, saya terlibat dalam peristiwa paling bersejarah itu,’’katanya.
Keberuntungan itu bagi Ilyas merupakan sebuah anugerah yang pantas disyukuri. Namun, bagi pemuda Indonesia, sosok Ilyas Karim yang muncul sebagai salah satu pelaku sejarah kemerdekaan adalah sebuah simbol. Dan bagi Paskibraka, sosok Ilyas bukan saja mewakili pemuda, tapi juga remaja berusia 18 tahun yang kemudian mengilhami gagasan pengibaran bendera pusaka oleh Paskibraka.

Pesan-pesan Pembina

Husein Mutahar
HUSEIN MUTAHAR
(Lahir : Semarang, 5 Agustus 1916, Wafat : Jakarta, 9 Juni 2004)


Kebutuhan dunia yang terbesar adalah kebutuhan akan manusia...
Manusia yang tidak mau dijual, juga tidak mau dibeli.
Manusia yang dalam lubuk hatinya ada kebenaran dan kejujuran.
Manusia yang tidak takut untuk menyebut dosa dengan kebenaran namanya sendiri.
Manusia yang nuraninya teguh terhadap kesajiban patuhnya jarum kompas menjunjukkan arah kutub.
Manusia yang tegar membela kebenaran meski langit runtuh menimpanya.

Namun, watak seperti itu bukanlah sesuatu yang tercipta secara kebetulan.
Bukan kemurahan hati atau imbalan jasa dari orang lain.
Watak luhur adalah hasil penataan dan disiplin diri.
Hasil dari sikap merendah terhadap kekuasaan alam.
Hasil pasrah diri untuk mengabdi kepada Tuhan dan sesama manusia dengan penuh rasa kasih sayang...



Dharminto Surapati
DHARMINTO SURAPATI
(Lahir : 20 Agustus 1932, Wafat : Jakarta, 7 September 2007)


Seorang manusia semakin lama akan semakin tua.
Satu demi satu, kami yang tua-tua ini akan pergi dan tak selamanya berada diantara kalian.
Jangan biarkan kepergian kami tanpa jejak dan peninggalan.
Jadilah semua "Roda Gendheng" yang mampu terus berputar dan memutar roda-roda lainnya meski sumber tenaga awalnya sudah tidak mempunyai kekuatan lagi...



Idik Sulaeman
IDIK SULAEMAN

Karena benda inilah (Red:bendera merah putih) kita berkumpul di Desa Bahagia...
Saling kenal, saling bercerita, saling cinta dalam satu rasa: Aku Putera Indonesia.
Meskipun hanya kenangan saat menjadi anggota Paskibraka,
Jiwa dan semangatnya terasa abadi dan lestari.
Pertahankanlah terus dan selalu kobar-kobarkanlah jiwa dan semangat itu!


Bunda Bunakim
BUNDA BUNAKIM
(Lahir : Tahun 1917, Wafat : Juli 2005)


Dalam bekerja, kalian harus selalu menjadi kuli-kuli kencang yang tidak punya "wudhel" (pusar).
Yaitu orang yang mampu bekerja keras dan terus mengabdi untuk kepentingan sesama tanpa mengharapkan pamrih apapun juga.
Jangan mundur dari apa yang diniatkan.
Cita-cita harus tercapai bila kalian sudah terlanjur basah.
The show must go on, move forward and never retreat!

Bendera Pusaka Milik Siapa?

Sebagaimana biasa, setiap memperingati HUT Kemerdekaan 17 Agustus, Bung Karno sebagai presiden selalu menyampaikan pidato. Dan, setiap pidato selalu diberi judul tertentu sesuai dengan tema dan keadaan waktu itu. Demikian pula halnya pada HUT RI ke-19 tahun 1964, Bung Karno menyampaikan pidato berjudul ”Tahun Vivere Pericoloso”. Kata Vivere Pericoloso diambil dari bahasa Italia, yang artinya ”...hidup menyerempet nyerempet bahaya”.


Pada bagian depan pidato itu Bung Karno jelas-jelas menyebutkan bahwa bendera Merah-Putih pusaka yang hanya dikibarkan pada setiap tanggal 17 Agustus, dulunya dijahit oleh Fatmawati, istrinya yang berasal dari Bengkulu. Dan, dengan fakta sejarah itu pulalah, Bung Karno kemudian pernah mengklaim bahwa bendera pusaka itu miliknya pribadi. Apalagi, sebagaimana kisah penyelamatan bendera pusaka yang demikian heroik oleh Husein Mutahar saat datangnya agresi Belanda kedua pada tahun 1948. Bendera itu dititipkan pada Mutahar dengan perjanjian harus diserahkan kembali kepadanya. Mutahar menepati janjinya dan bendera pusaka kemudian diserahkan langsung kepada Bung Karno.
Sejak itu, Bung Karno menyimpan sendiri bendera pusaka. Dari tahun 1950, pengibaran bendera pusaka dilaksanakan di Istana Merdeka dengan Bung Karno sebagai Inspektur Upacara. Tapi, itu berlangsung hanya sampai tahun 1966, karena tak lama kemudian, pada Maret 1967, Bung Karno ”dilengserkan” secara paksa melalui Sidang Istimewa MPRS.

Sidang yang sama telah mengangkat Jenderal Soeharto menjadi Pejabat Presiden. Ketika berkunjung ke rumahnya pada tahun 1993, Mutahar pernah mengisahkan sebuah cerita yang menurutnya hanya pernah diketahui segelintir orang, dan ”rasanya tidak terlalu penting untuk diceritakan,” katanya.
Mutahar menyebutkan, bagaimana pada tahun 1967 ia mendapat perintah untuk mempersiapkan pengibaran bendera pusaka pada tanggal 17 Agustus. Sebagai Dirjen Udaka (Urusan Pemuda dan Pramuka) di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P&K), Mutahar memang sedang ingin mewujudkan gagasannya untuk menyerahkan pengibaran bendera pusaka itu kepada para pemuda utusan daerah. Segala sesuatu pun dipersiapkan, termasuk memanggil puluhan pemuda dan pramuka untuk dilatih menjadi Pasukan Penggerek Bendera Pusaka. Latihan ”ujicoba” pasukan pertama itu berlangsung mulus. Tapi, sesuatu yang ”fatal” hampir saja terjadi. ”Pasukan Penggerek Bendera Pusaka sudah siap beberapa hari sebelum 17 Agustus, namun para penanggungjawab upacara baru sadar kalau bendera pusaka yang akan dikibarkan ternyata tidak ditemukan,” papar Mutahar. Orang lain pasti akan berpikir sederhana untuk mengatasi masalah itu. Bikin saja bendera pengganti, toh tidak ada orang yang tahu. Tapi tidak demikian untuk ”seseorang” seperti Soeharto. Keberadaan bendera pusaka tak dapat digantikan dengan apapun. Orang akan menganggap ”tidak sah” bila tahu awal masa kepemimpinannya dimulai tanpa bendera pusaka. Akhirnya diketahuilah bahwa bendera pusaka masih berada di tangan Bung Karno. Akan tetapi mereka tidak tahu bagaimana caranya mengambil bendera itu. ”Dalam kebingungan itu, saya dipanggil ke Istana. Hanya sedikit orang yang tahu bagaimana menghadapi Bung Karno pada saat-saat seperti itu. api saya tahu sifat beliau. Maka saya bilang, kirimkan keempat Panglima Angkatan untuk meminta bendera itu,” papar Mutahar. ”Tebakan” Mutahar ternyata benar.

Bung Karno yang sudah ”diistirahatkan” di Bogor menjadi lembut hatinya ketika didatangi. Memang mulanya agak ragu-ragu, tapi beberapa saat kemudian Bung Karno berkata dengan tenang. ”Baik, tanggal 16 Agustus kalian datang lagi ke sini, lengkap dengan semua Panglima keempat Angkatan. Saya akan lakukan acara resmi serah terima bendera pusaka...” . Maka, sebagaimana dijanjikan, pada tanggal 16 Agustus malam, keempat Panglima Angkatan —sebutan untuk pimpinan ABRI dan Polri masa itu— menghadap ke Istana Bogor. Tanpa diduga, mereka kemudian diajak balik lagi ke Jakarta dan akhirnya menuju ke Monumen Nasional (Monas). Ternyata, selama itu bendera pusaka memang disimpan Bung Karno dalam ruang bawah tanah di dalam Monumen Nasional. Bendera pusaka kemudian dibawa ke Istana Merdeka. Atas perintah Presiden Soeharto, Mutahar dipanggil ke Istana untuk memastikan apakah bendera pusaka itu memang asli. Hanya Mutahar, satu-satunya orang yang tahu betul bentuk bendera pusaka, karena dia yang membuka jahitan tangan Ibu Fatmawati. Dia pula yang menyambungkan kembali bagian merah dan putih dengan mesin jahit — dan terjadi kesalahan jahit kecil sekitar 2 cm di ujungnya. Sejak itu, Soeharto menempatkan bendera pusaka di Istana, dalam sebuah kotak kayu berukir yang di dalamnya diberi potongan kayu cendana sehingga berbau harum bila dibuka. Bendera pusaka yang sudah usang itu selalu diperlihatkan kepada para anggota Paskibraka setiap tanggal 16 Agustus, untuk membangkitkan semangat mereka sebelum bertugas esok hari. Memang terbetik berita, bendera pusaka rencananya akan kembali ditempatkan di Monumen Nasional. Berbagai persiapan telah dirancang, termasuk rencana mengarak bendera pusaka dari Istana Merdeka ke Monas yang jaraknya hanya beberapa ratus meter, yang konon menelan biaya tidak kecil. Namun, rencana itu belum terwujud. Begitulah, bendera pusaka memang dijahit oleh Ibu Fatmawati. Dikibarkan sesaat setelah dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di depan kediaman Bung Karno, Jalan PegangsaanTimur 56 Jakarta. Disimpan dan dijaga Bung Karno dengan segenap jiwa dan raga. Tapi, Bung Karno juga tahu, bahwa bendera pusaka adalah sebuah prasasti yang dimiliki oleh seluruh bangsa Indonesia, bukan miliknya pribadi.

Antara Soekarno dan Soeharto

Sebuah Pengalaman Pribadi Husein Mutahar
Apa yang dikisahkan berikut ini merupakan pengalaman pribadi Kak Mutahar bersama dua orang nomor satu di Republik Indonesia: Soekarno dan Soeharto. Diakui Kak Mut, pendapat pribadinya belum tentu sama dengan orang lain. "Sebagai mantan ajudan dan staf, aku mikul dhuwur mendhem jero, sehingga yang kucerita-kan kebaikannya saja. Soal kekurangannya, biarlah orang lain yang menceritakan," ujar Kak Mut.
Beberapa kali cerita ini dipaparkan kepada saya, sebagian di antaranya di depan teman-teman Paskibraka '78 yang lain. Kak Mut sering bilang, kisah ini sebenarnya tidak terlalu penting. Tapi saya melihat sebaliknya: sebagai sebuah sisi penting yang menunjukkan siapa sebenarnya seorang Husein Mutahar. (Budi W)

Mutahar dan Soekarno 
BUNG Karno (BK) lahir di Blitar dan tumbuh di masa sulit serta penuh perjuangan. Sebagai orang Jawa Timur bicaranya cep las ceplos tanpa tedeng aling-aling. Suaranya mungkin terdengar kasar, tetapi memang itulah Soekarno. Kalau sedang marah, semua keluar dengan seketika. Tapi, secepat itu pula ia minta maaf bila merasa ada kata-katanya yang menyinggung perasaan.
Suatu hari, ajudan BK datang ke rumahku dan bilang, "Pak Mutahar dipanggil menghadap Bapak (BK) di istana." Aku jawab, "Baik, saya ganti baju dulu dan nanti menyusul ke istana." Tetapi si ajudan bertahan, "Tadi Bapak pesan Pak Mutahar harus ikut bersama saya."
Wah, sepertinya penting sekali. Maka aku bergegas, dan sesampai di istana langsung menuju ke ruang kerjanya. Kulihat muka BK kusut dan sepertinya sedang marah besar. "Mut, kamu tahu kenapa aku panggil?" Aku menjawab santai, "Lha ya nggak tahu. Wong Bapak yang manggil saya, mana saya tahu."
"Aku mau marah!" hardik BK lagi. "Ya marah aja. Mau marah kok nunggu saya," jawabku sekenanya, karena aku kenal betul sifatnya.
Ternyata, jawabanku itu membuatnya benar-benar marah. Dalam bahasa Belanda BK mengeluarkan unek-uneknya selama hampir dua jam, padahal aku tidak tahu sebabnya. Aku mendengarkan saja, sampai kemarahan itu kendor dan akhirnya BK diam. Aku lalu bilang, "Bung, marahnya sudah selesai kan? Kalau sudah, aku tak pulang..."
BK langsung melotot ke arahku. Dalam hati aku berkata, "Wah, salah omong aku. Bisa-bisa dia marah lagi..." Tapi ternyata tidak, karena mata-nya kembali meredup. "Ya sudah, pulang sana!" katanya memerintah.
"Kalau begitu saya pamit," jawabku sambil keluar dan terus pulang. Tapi tak lama kemudian, ajudannya datang lagi ke rumahku.
Aku langsung menyambar, "Ada apa? Saya dipanggil lagi untuk dima-rahi ya?" Sang ajudan cuma mesem-mesem. "Nggak kok Pak Mut. Saya disuruh Bapak ngantar ini," katanya sambil menyerahkan tas — yang setelah kubuka ternyata isinya berbagai macam kue.
Sambil mengucapkan terima kasih kepad si ajudan, aku tersenyum. "Dasar wong gendeng. Kalau bar nesu (habis marah) ngirimi kue, ya sering-sering aja marah biar giziku terjamin," kataku dalam hati.
Esoknya aku bertemu lagi dengan BK dan kulihat wajahnya sumri-ngah. Maka aku menegur, "Bung, kalau masih mau marah sama saya, silahkan. Tapi jangan lupa kuenya dikirim lagi."
BK tertawa keras. "Mut, kamu tahu kenapa saya marah?" Aku menjawab, "Ya nggak tahulah. Wong Bapak marahnya banyak sekali, jadi saya nggak ingat."
"Makanya aku panggil kamu untuk aku marahi. Lantaran aku tahu kamu pasti tutupi kupingmu dengan kapas biar nggak dengar omong-anku," kata BK sambil ngeloyor pergi. ***
Mutahar dan Soeharto  
PAK Harto lahir dan besar di Yogyakarta dan sekitarnya. Begitu juga selama masa perjuangan, ia banyak berkiprah di tanah kelahiran-nya. Maka tak aneh jika sifatnya lembut. Kultur Jawa-nya sangat kental, tutur katanya halus dan pandai menyimpan perasaan. Kalau menegur pasti menggu-nakan krama halus, dan sebagai orang Jawa suka memakai bahasa simbol dan lebih sulit dipahami.
Pada suatu hari di awal bulan Agustus 1968, aku dipanggil menghadap ke istana. Berdua saja di ruang kerjanya, dengan sebuah kotak berukir di atas meja, Pak Harto memulai pembicaraan. "Pak Mutahar kan tahu bahwa bendera pusaka sudah cukup tua dan kondisinya semakin rapuh. Saya ingin menggantinya agar tidak robek pada saat dikibarkan di hari kemerde-kaan nanti. Bagaimana pendapat Bapak?"
Aku terdiam beberapa saat dan mencari jawaban yang tepat. "Pak Harto," kataku dengan hati-hati, "saya tahu bendera pusaka sudah rapuh. Tapi kalau boleh saya memberi saran, sebaiknya bendera pusaka tetap dikibarkan sekali lagi tahun ini. Setelah itu, mau diganti dengan bendera lain terserah Bapak."
"Mengapa harus tetap dikibarkan?" tanya Pak Harto lagi.
"Karena ini adalah bendera Merah Putih yang perta-ma kali dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan. Jadi sebaiknya bendera ini dikibarkan juga pada saat estafet kepemimpinan beralih ke tangan Bapak, selain sebagai ungkapan rasa hormat dan terima kasih kepada para pejuang kemerdekaaan," ujarku menjelaskan. Tahun 1968, memang tahun pertama Pak Harto menjabat Presiden RI setelah dilantik dalam Sidang Umum MPRS, 27 Maret 1968.
Pak Harto tersenyum dan kemudian berkata, "Baik-lah, pendapat bapak akan saya pertimbangkan. Tetapi saya masih mau minta tolong kepada Pak Mutahar untuk memastikan apakah bendera yang ada didalam kotak ini benar-benar bendera pusaka yang asli. Saya tahu Pak Mutahar yang menyelamatkan bendera pusaka pada saat perjuangan dulu, jadi pasti bisa mengenalinya."
Aku kaget setengah mati. Bagaimana kalau bendera yang di dalam kotak itu bukan bendera pusaka, wah, bisa celaka aku. Aku berpikir keras bagaimana caranya bisa meyakinkan Pak Harto tentang keaslian bendera pusaka tanpa harus memeriksanya sendiri. "Maaf Pak Harto. Bukan saya tidak mau memenuhi permintaan Bapak, tetapi biarlah saya jelaskan secara detail ciri-cirinya, setelah itu silahkan Bapak memeriksa dan memastikan sendiri keaslian bendera pusaka. Jika ciri-cirinya cocok berarti asli," ujarku dan setelah itu cepat-cepat mohon pamit.
Nyatanya, Pak Harto mendengarkan usulanku. Bendera dalam kotak itu memang asli bendera pusaka. Dan, pada puncak upacara HUT Proklamasi 1968, bendera pusaka yang asli itu kembali berkibar di tiang 17 Istana Merdeka Jakarta.

H. Mutahar Bapak Paskibraka

Peristiwa itu terjadi beberapa hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pertama. Presiden Soekamo memanggil ajudannya, Mayor (Laut) M. Husain Mutahar dan memberi tugas agar segera mempersiapkan upacara peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1946, di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.

Ketika sedang berpikir keras menyu-sun acara demi acara, seberkas ilham berkelebat di benak Mutahar. Persatuan dan kesatuan bangsa, wajib tetap dilestarikan kepada generasi penerus yang akan menggantikan para pemimpin saat itu. "Simbol-simbol apa yang bisa digunakan?" pikirnya.

Pilihannya lalu jatuh pada pengibaran bendera pusaka. Mutahar berpikir, pengibaran lambang negara itu sebaiknya dilakukan oleh para pemuda Indonesia. Secepatnya, ia menunjuk lima pemuda yang terdiri dari tiga putri dan dua putra. Lima orang itu, dalam pemikiran Mutahar, adalah simbol Pancasila.

Salah seorang pengibar bendera pusaka 17 Agustus 1946 itu adalah Titik Dewi Atmono Suryo, pelajar SMA asal Sumatera Barat yang saat itu sedang menuntut ilmu dan tinggal di Yogyakarta. Sampai peringatan HUT Kemerdekaan ke-4 pada 17 Agustus 1948, pengibaran oleh lima pemuda dari berbagai daerah yang ada di Yogyakarta itu tetap dilaksanakan.

Sekembalinya ibukota Republik Indonesia ke Jakarta, mulai tahun 1950 pengibaran bendera pusaka dilaksanakan di Istana Merdeka Jakarta. Regu-regu pengibar dibentuk dan diatur oleh Rumah Tangga Kepresidenan Rl sampai tahun 1966. Para pengibar bendera itu memang para pemuda, tapi belum mewakili apa yang ada dalam pikiran Mutahar.

Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka sejak ibukota negara dipindahkan dari Yogyakarta. Upacara Peringatan Proklamasi Kemerdekaan diadakan di Istana Merdeka Jakarta sejak 1950 sampai 1966. Ia pun seakan hilang bersama impiannya. Na-mun, ia mendapat "kado ulang tahun ke-49" pada tanggal 5 Agustus 1966, ketika ditunjuk menjadi Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka (Dirjen Udaka) di Departemen Pendidikan & Kebudayaan (P&K). Saat itulah, ia kembali teringat pada gagasannya tahun 1946.

Setelah berpindah-pindah tempat ker-ja dari Stadion Utama Senayan ke eks gedung Departemen PTIP di Jalan Pe-gangsaan Barat, Ditjen Udaka akhirnya menempati gedung eks Departemen Te-naga Kerja dan Transmigrasi (Naker-trans) Jalan Merdeka Timur 14 Jakarta. Tepatnya, di depan Stasiun Kereta Api Gambir.

Dari sana, Mutahar dan jajaran Udaka kemudian mewujudkan cikal bakal latihan kepemudaan yang kemudian diberi nama "Latihan Pandu Ibu Indonesia BerPancasila". Latihan itu sempat diujicoba dua kali, tahun 1966 dan 1967. Kurikulum ujicoba "Pasukan Penggerek Bendera Pusaka" dimasukkan dalam latihan itu pada tahun 1967 dengan peserta dari Pramuka Penegak dari beberapa gugus depan yang ada di DKI Jakarta.

Latihan itu mempunyai kekhasan, teru-tama pada metode pendidikan dan pelatihannya yang menggunakan pen-dekatan sistem "Keluarga Bahagia" dan diterapkan secara nyata dalam konsep "Desa Bahagia". Di desa itu, para peserta latihan (warga desa) diajak berperan serta dalam menghayati kehidupan sehari-hari yang menggambarkan peng-hayatan dan pengamalan Pancasila.

Saat Ditjen Udaka difusikan dengan Ditjen Depora menjadi Ditjen Olahraga dan Pemuda, lalu berubah lagi menjadi Ditjen Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga (Diklusepora), salah satu direktorat di bawahnya adalah Direktorat Pembinaan Generasi Muda (PGM). Direktorat inilah yang kemudian meneruskan latihan dengan lembaga penyelenggara diberi nama "Gladian Sentra Nasional".
Tahun 1967, Husain Mutahar kembali dipanggil Presiden Soeharto untuk dimintai pendapat dan menangani masalah pengibaran bendera pusaka. Ajakan itu, bagi Mutahar seperti "mendapat durian runtuh" karena berarti ia bisa melanjutkan gagasannya membentuk pasukan yang terdiri dari para pemuda dari seluruh Indonesia.

Mutahar lalu menyusun ulang dan mengembangkan formasi pengibaran dengan membagi pasukan menjadi tiga kelompok, yakni Kelompok 17 (Pengiring/ Pemandu), Kelompok 8 (Pembawa/Inti) dan Kelompok 45 (Pengawal). Formasi ini merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia Republik Indonesia 17 Agustus 1945 (17-8-45).
Mutahar berpikir keras dan mencoba mensimulasikan keberadaan pemuda utusan daerah dalam gagasannya, karena dihadapkan pada kenyataan saat itu bahwa belum mungkin untuk mendatangkan mereka ke Jakarta. Akhirnya diperoleh jalan keluar dengan melibatkan putra-putri daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran bendera pusaka.

Semula, Mutahar berencana untuk mengisi personil kelompok 45 (Pengawal) dengan para taruna Akademi Ang-katan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) sebagai wakil generasi muda ABRI. Tapi sayang, waktu liburan perkuliahan yang tidak tepat dan masalah transportasi dari Magelang ke Jakarta menjadi kendala, sehingga sulit terwujud.

Usul lain untuk menggunakan anggota Pasukan Khusus ABRI seperti RPKAD (sekarang Kopassus), PGT (sekarang Paskhas), Marinir dan Brimob, juga tidak mudah dalam koordinasinya. Akhirnya, diambil jalan yang paling mudah yaitu dengan merekrut anggota Pasukan Pengawal Presiden (Paswalpres), atau sekarang Paspampres, yang bisa segera dikerahkan, apalagi sehari-hari mereka memang bertugas di lingkungan Istana.

Pada tanggal 17 Agustus 1968, apa yang tersirat dalam benak Husain Mutahar akhirnya menjadi kenyataan. Setelah tahun sebelumnya diadakan ujicoba, maka pada tahun 1968 dida-tangkanlah pada pemuda utusan daerah dari seluruh Indonesia untuk mengibar-kan bendera pusaka.

Selama enam tahun, 1967-1972, bendera pusaka dikibarkan oleh para pemuda utusan daerah dengan sebutan "Pasukan Penggerek Bendera". Pada tahun 1973, Drs Idik Sulaeman yang menjabat Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan di Departemen Pendidikan dan Kebu-dayaan (P&K) dan membantu Husain Mutahar dalam pembinaan latihan me-lontarkan suatu gagasan baru tentang nama pasukan pengibar bendera pusaka.
Mutahar yang tak lain mantan pembina penegak Idik di Gerakan Pramuka setuju. Maka, kemudian meluncurlah sebuah nama antik berbentuk akronim yang agak sukar diucapkan bagi orang yang pertama kali menyebutnya: PASKIBRAKA, yang merupakan singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.

Memang, Idik Sulaeman yang memberi nama Paskibraka. Tapi pada hakekatnya penggagas Paskibraka tetaplah Husein Mutahar, sehingga ia sangat pantas diberi gelar "Bapak Paskibraka".

In Memoriam Bunda Bunakim

"Terlalu indah dilupakan
terlalu sedih dikenangkan
setelah aku jauh berjalandan kau kutinggalkan

Betapa hatiku bersedih
mengenang kasih dan sayangmu
setulus pesanmu kepadaku
dan kau kan menunggu

Andai kan kau datang kembali,
jawaban apa yang kan ku beri,
adakah jalan yang kutemui
untuk kita kembali lagi

Bersinarlah bulan purnama
seindah serta tulus cintanya
bersinarlah terus sampai nanti
lagu ini ku akhiri."


Sayup-sayup terdengar lagu dari suara lembut Ruth Sahanaya. Anganku melambung, mengenang seorang wanita lain yang tetap hadir dalam hatiku selain ibu dan istriku. Dialah Bundaku, Bunda Boenakim, Bunda Paskibraka yang sudah berpulang menghadap Sang Pencipta pada suatu pagi, tanggal 1 Juli 2005. Tahun 1978 aku mengenal Bunda dan menjadi anaknya untuk waktu tak sampai sebulan. Tapi, sepulangnya dari asrama Paskibraka, bagiku ia tetap menjadi Bunda, begitu pula bagi semua Purna Paskibraka yang berjumlah lebih dari seribu orang. Di mata anak didiknya, Bunda adalah ibu yang baik, penuh perhatian dan cinta. Semua orang menyayanginya dan selalu terkenang akan sapaannya yang akrab dan bersahaja.Bunda Boenakim tidak pernah mau merepotkan orang lain. Selalu bertutur ramah dan sumringah dengan siapapun, walau jari jemari tangannya yang keriput tetap sibuk dengan benang dan jarum menjahit pakaiannya sendiri. Bunda yang sederhana adalah sosok pembina yang sangat akrab di asrama maupun di mana saja kita bertemu. Teman ngobrol yang enak, karena selalu nyambung. Memberikan petuah tentang kehidupan dengan bahasa yang lugas dan menunjukkan tauladan hidup yang membumi. Bunda selalu tersenyum setiap waktu. Jarang sekali dia marah, namun dia akan benarbenar marah jika ada yang menginjak-nginjak harga diri anak-anaknya. Termasuk ketika anggota Paskibraka diperlakukan dengan salah dan seenaknya oleh para pelatih dari militer. Tetapi, dengan penuh cinta ia mau memberi maaf setelah para pelatih sadar dan mau mengubah sikap mereka yang salah.

Suatu saat, aku pernah sama-sama naik bis kota dengan Bunda. Dengan sigap dan lincah di usia yang tergolong lanjut, ia mencari tempat kosong di tingah himpitan penumpang yang berjubel. Dengan spontan Bunda mengucapkan terima kasih kepada seorang pelajar yang memberinya tempat duduk. Ketulusan dan pesona Bunda begitu membekas, terlebih ucapan lembutnya setiap malam di asrama, saat mengantar anggota Paskibraka menuju peraduan. Dia selalu mengingatkan agar kita selalu hormat dan patuh kepada orangtua dan kepada orang yang lebih tua, di manapun kita berada. Bunda mengingatkan kita agar selalu berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk kesehatan dan kebahagiaan orangtua. Dia mengajari kita untuk terus berbakti kepada Ibu Pertiwi dan kepada semua ibu yang melahirkan kita. Dengan kesederhaan Bunda mengajari kita akan hidup yang penuh perjuangan dan jangan pernah berputus asa. Sama seperti cerita perjuangan Bunda saat menghadapi suami yang wafat di pangkuannya. Dengan tabah dantulus serta tawakal, Bunda menyerahkan jiwa suaminya kehadirat Yang Maha Kuasa untuk kemuliaan bumi Indonesia. Begitu banyak kenangan indah yang Bunda ajarkan kepada kita dan kita belum bisa mengikuti semua teladan yang ditunjukkannya. Semoga Bunda sekarang berada di alam kelanggengan dengan penuh kebahagian sesuai amal dan ibadah yang begitu indah dan penuh warna. Sekarang, aku semakin tahu bahwa Bunda Boenakim dengan tulus ikhlas sangat mengasihi kita. Semua dilakukan dengan teladan citra diri dan kasih sejati. Bunda, memang selalu mengajari serta membina dengan hati dan cinta.

H. Mutahar - Sang Penyelamat Bendera Pusaka

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan pada hah Jum'at, 17 Agustus 1945, jam 10.00 pagi, di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Setelah pernyataan kemer­dekaan Indonesia, untuk pertama kali se-cara resmi bendera kebangsaan merah putih dikibarkan oleh dua orang pemuda, Latief Hendraningrat dan Suhud. Bende­ra ini dijahit tangan oleh Ibu Fatmawati Soekarno dan bendera ini pula yang ke-mudian disebut "bendera pusaka".

Bendera pusaka berkibar siang dan malam di tengah hujan tembakan sampai Ibukota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Pada tanggal 4 Januari 1946, karena aksi teror yang dilakukan Belanda semakin meningkat, presiden dan wakil presiden Republik Indonesia dengan menggunakan kereta api me-ninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta. Bendera pusaka dibawa ke Yogyakarta dan dimasukkan dalam koper pribadi Soekarno. Selanjutnya, ibukota dipin­dahkan ke Yogyakarta.

Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresinya yang kedua. Pre­siden, wakil presiden dan beberapa peja-bat tinggi Indonesia akhirnya ditawan Belanda. Namun, pada saat-saat genting dimana Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta dikepung oleh Belanda, Soe­karno sempat memanggil salah satu ajudannya, Mayor M. Husein Mutahar. Sang ajudan lalu ditugaskan untuk untuk menyelamatkan bendera pusaka. Penye-lamatan bendera pusaka ini merupakan salah satu bagian "heroik" dari sejarah tetap berkibarnya Sang Merah putih di persada bumi Indonesia. Saat itu, Soe­karno berucap kepada Mutahar:

"Apa yang terjadi terhadap diriku, aku sendiri tidak tahu. Dengan ini aku mem-berikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun juga, aku memerintah-kan kepadamu untuk menjaga bendera kita dengan nyawamu. Ini tidak boleh ja-tuh ke tangan musuh. Di satu waktu, jika Tuhan mengizinkannya engkau me-ngembalikannya kepadaku sendiri dan tidak kepada siapa pun kecuali kepada orang yang menggantikanku sekiranya umurku pendek. Andaikata engkau gugur dalam menyelamatkan bendera ini, per-cayakanlah tugasmu kepada orang lain dan dia harus menyerahkannya ke ta-nganku sendiri sebagaimana engkau mengerjakannya."

Sementara di sekeliling mereka bom berjatuhan dan tentara Belanda terus mengalir melalui setiap jalanan kota, Mutahar terdiam. Ia memejamkan mataya dan berdoa, Tanggungjawabnya terasa sungguh berat. Akhirnya, ia berhasil memecahkan kesulitan dengan menca-but benang jahitan yang menyatukan ke­dua bagian merah dan putih bendera itu.

Dengan bantuan Ibu Perna Dinata, ke­dua carik kain merah dan putih itu berha­sil dipisahkan. Oleh Mutahar, kain merah dan putih itu lalu diselipkan di dasar dua tas terpisah miliknya. Seluruh pakaian dan kelengkapan miliknya dijejalkan di atas kain merah dan putih itu. Ia hanya bisa pasrah, dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Yang ada dalam pemikiran Mutahar saat itu hanyalah satu: bagaimana agar pihak Belanda tidak mengenali bendera merah-putih itu sebagai bendera, tapi ha­nya kain biasa, sehingga tidak melaku-kan penyitaan. Di mata seluruh bangsa Indonesia, bendera itu adalah sebuah "prasasti" yang mesti diselamatkan dan tidak boleh hilang dari jejak sejarah.
Benar, tak lama kemudian Presiden Soekarno ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Prapat (kota kecil di pinggir danau Toba) sebelum dipindahkan ke Muntok, Bangka, sedangkan wakil presi­den Mohammad Hatta langsung dibawa Bangka. Mutahar dan beberapa staf ke-presidenan juga ditangkap dan diangkut dengan pesawat Dakota. Ternyata mere­ka dibawa ke Semarang dan ditahan di sana. Pada saat menjadi tahanan kota, Mutahar berhasil melarikan diri dengan naik kapal laut menuju Jakarta.

Di Jakarta Mutahar menginap di rumah Perdana Menteri Sutan Syahrir, —yang sebelumnya tidak ikut mengungsi ke Yogyakarta. Beberapa hari kemudian, ia kost di Jalan Pegangsaan Timur 43, di rumah Bapak R. Said Soekanto Tjokrodiatmodjo (Kepala Kepolisian RI yang pertama).
Selama di Jakarta Mutahar selalu mencari informasi dan cara, bagaimana bisa segera menyerahkan bendera pusa­ka kepada presiden Soekarno. Pada su-atu pagi sekitar pertengahan bulan Juni 1948, akhirnya ia menerima pemberita-huan dari Sudjono yang tinggal di Oranje Boulevard (sekarang Jalan Diponegoro) Jakarta. Pemberitahuan itu menyebutkan bahwa ada surat dari Presiden Soekarno yang ditujukan kepadanya.

Sore harinya, surat itu diambil Mutahar dan ternyata memang benar berasal dari Soekarno pribadi. Isinya sebuah perintah agar ia segera menyerahkan kembali bendera pusaka yang dibawanya dari Yogya kepada Sudjono, agar dapat diba­wa ke Bangka. Bung Karno sengaja tidak memerin-tahkan Mutahar sendiri datang ke Bang­ka dan menyerahkan bendera pusaka itu langsung kepadanya. Dengan cara yang taktis, ia menggunakan Soedjono sebagai perantara untuk menjaga kera-hasiaan perjalanan bendera pusaka dari Jakarta ke Bangka.
Itu tak lain karena dalam pengasingan, Bung Karno hanya boleh dikunjungi oleh anggota delegasi Republik Indonesia dalam perundingan dengan Belanda di bawah pengawasan UNCI (United Na­tions Committee for Indonesia). Dan Su­djono adalah salah satu anggota dele­gasi itu, sedangkan Mutahar bukan.

Setelah mengetahui tanggal keberangkatan Soedjono ke Bangka, Muta­har berupaya menyatukan kembali ke­dua helai kain merah dan putih dengan meminjam mesin jahit tangan milik seo-rang istri dokter —yang ia sendiri lupa namanya. Bendera pusaka yang tadinya terpisah dijahitnya persis mengikuti lubang bekas jahitan tangan Ibu Fatmawati. Tetapi sayang, meski dilakukan dengan hati-hati, tak urung terjadi juga kesalahan jahit sekitar 2 cm dari ujungnya.

Dengan dibungkus kertas koran agar tidak mencurigakan, selanjutnya bende­ra pusaka diberikan Mutahar kepada Soedjono untuk diserahkan sendiri kepa­da Bung Karno. Hal ini sesuai dengan perjanjian Bung Karno dengan Mutahar sewaktu di Yogyakarta. Dengan diserahkannya bendera pusaka kepada orang yang diperintahkan Bung Karno maka selesailah tugas penyelamatan yang dilakukan Husein Mutahar. Sejak itu, sang ajudan tidak lagi menangani masalah pengibaran bendera pusaka.

Tanggal 6 Juli 1949, Presiden Soekar­no dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kembali ke Yogyakarta dari Bangka de­ngan membawa serta bendera pusaka. Tanggal 17 Agustus 1949, bendera pu­saka dikibarkan lagi di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.

Naskah pengakuan kedaulatan lndo­nesia ditandatangani 27 Desember 1949 dan sehari setelah itu Soekamo kembali ke Jakarta untuk memangku jabatan Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS). Setelah empat tahun ditinggalkan, Jakarta pun kembali menjadi ibukota Republik Indonesia. Hari itu juga, ben­dera pusaka dibawa kembali ke Jakarta.
Untuk pertama kalinya setelah Prok­lamasi bendera pusaka kembali dikibar­kan di Jakarta pada peringatan Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1950.

H. Mutahar - Potret Seorang Musikus Ulung

Euforia nasionalisme dan patriot-isme (cinta tanah air) bangsa Indo nesia seakan meledak-ledak ke permukaan tatkala kita merayakan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI dari tahun ke tahun. Mulai dari RT/RW, desa/kelu-rahan, kecamatan, kabupaten/kota, propinsi hingga istana negara, gedung-gedung sekolah, kampus, kantraktor, pertokoan, tempat-tempat keramaian umum termasuk rumah-rumah pendu-duk terpancang umbu-umbul warna warni yang mencuar-cuar ke langit menghiasi wajah tanah air ini.
Sayangnya nuansa ini tak dibarengi lagu-lagu perjuangan dan nasional yang menggelegar di mana-mana. Ke-cuali di lingkungan sekolah. Para siswa sering melantunkan kembali lagu-lagu wajib seperti: Dari Sabang Sampai Merauke, Maju Tak Gentar, Rayuan Pu-lau Kelapa, Bangun Pemuda Pemudi, dll. Musik gaul, lagu-lagu kelompok band sekarang cenderung menjadi fa-vorit kaum remaja Indonesia masa kini.
Pada 9 Juni 2004, seorang musikus Indonesia era pra kemerdekaan telah meninggalkan dunia di Jakarta. Dialah Mutahar yang nama lengkapnya Husein Mutahar, kelahiran Semarang 5 Agustus 1916. Beliau adalah pencipta lagu Himme Syukur dan mars Hari Mer-deka yang merupakan lagu-lagu wajib nasional. Kepergian almarhum ini me-mang nyaris tersaput oleh gegap gem-pita kampanye pemilihan Presiden. Pu-blik pun tak banyak tahu siapa gerangan Mutahar itu.
Tempo edisi 14-20 Juni 2004 menu-runkan rubrik khusus obituari mengi-ringi kepergian Mutahar dengna judul "Mutahar Sudah Merdeka". Ia dilukiskan sebagai seorang pribadi yang santun, jujur dan cerdas. Inilah prototipe kelom­pok muda intelektual Indonesia umum-nya era pra kemerdekaan yang memiliki ciri-ciri kecerdasan tinggi. Mereka rata-rata menguasai bidang matemati-ka, sejarah, bahasa, musik, dan sastra. Memiliki mental bersiplin tinggi, taat aturan, punya standar moral dan patri-otisme hingga akhir hayat mereka.

Karakteristik ini juga ada dalam diri seorang Mutahar. Jejak langkah beliau mencerminkan keterlibatan dan dedi-kasinya dalam hidup berbangsa dan bernegara. Sebagai seorang "pelayan negara" (civil servant) ia berkecimpung di bidang pemerintahan, kemasyarakatan, diplomasi dan lebih khusus lagi di bidang komposisi lagu-lagu yang bernafaskan nasionalisme dan patri-otisme, pendidikan (lagu anak-anak dan pramuka).

Ia pernah menjadi pelopor kepan-duan bangsa Indonesia pada masa pra kemerdekaan yang kalau itu lazim disebut Pandu Rakyat Indonesia. Dari sinilah, dalam kiprah kepanduan Indo­nesia selanjutnya, lahir nama baru "Pra­muka" (praja muka karana). Berbagai jabatan yang pernah diemban H Muta­har menunjukkan bahwa ia adalah seo­rang abdi negara sejati yang punya kredibilitas, dedikasi dan akuntabilitas (istilah yang marak dipakai pejabat-pe-jabat era reformasi sekarang ini) diser-tai ketulusan, kesederhanaan, keren-dahan hati dan keindahan (seni musik).

Lagu Syukur yang termasuk jenis la­gu himne (gita puja), pujian kepada Tu-han, merupakan lagu pertama ciptaan Mutahar dan untuk pertama kalinya di-perkenalkan kepada khayalak ramai pada Januari 1945. Itu berarti beberapa bulan menjelang Proklamasi RI (17 Agustus 1945) yang diumumkan oleh Soekarno-Hatta, Mutahar ingin meng-ungkapkan magnifikasi (pernyataan pujian) yang agung ke seluruh penjuru tanah air lewat lagu Syukur itu. Tembang dengan syair yang bernu-ansa magnificant ini mau menegaskan kepada kita bahwa tanah air Indonesia yang sebentar lagi akan merdeka ada­lah sebuah karunia Tuhan:

"Dari yakinku teguh, hati ikhlasku penuh, akan karuniaMu
Tanah air pusaka, Indonesia Mer­deka, syukur aku sembahkan ke hadi-rat-Mu Tuhan".

Makna yang dalam serta nilai musikal yang kuat dalam lagu himne Syukur ini seringkali membuat banyak orang tere-nyuh dan terpesona bahkan mencucur-kan air mata ketika dinyanyikan kelom­pok paduan suara dengan penuh pen-jiwaan. Tak heran lagu berwatak serin-dai ini selalu menjadi salah satu lagu utama (prime song) pada parade lagu-lagu perjuangan perayaan 17 Agustus atau hari besar nasional lainnya.
Wawasan kebangsaan dan tema ke­merdekaan selalu terdepan dalam de-rap perjuangan bangsa Indonesia ma­sa pra kemerdekaan. Itulah sebabnya seorang Mutahar tahu betul dan yakin bahwa tanpa pengorbanan putra-putri terbaik bangsa (para pahlawan) di medan perang, niscaya kemerdekaan itu berhasil direngkuh dan direbut dari tangan    penjajah    sebagaimana    ia daraskan pada bait kedua:

"Dari yakinku teguh, cinta ikhlasku penuh, akan jasa usaha
Pahlawanku yang baka, Indonesia Merdeka, syukur aku hunjukkan, ke bawah duli tuan."

Dia menutup syair-syair lagunya itu dengan sebuah apresiasi pada Gerakan Pramuka Indonesia, Ia melihat inst-itusi kepramukaan itu tidak sekadar sebuah organisasi pemuda/i tapi lebih dari itu sebuah model perjuangan bang­sa menuju kemerdekaan dengan satu prinsip perjuangan yaitu kerukunan:

"Dari yakinku teguh, bakti ikhlasmu penuh, akan azas rukunmu.
Pandu bangsa yang nyata, Indone­sia merdeka, Syukur aku hunjukkan, ke hadapanmu tuan"

Lagu-lagu Indonesia masa sebelum kemerdekaan masuk kategori musik perjuangan dengan penekanan pada aspek sosial dan politik, berbicara ten-tang identitas dan kesatuan bangsa, merefleksi kembali fase-fase berat ma­sa lalu, bertutur tentang korban berja-tuhan di medan perang. Jadi termi-nologi untuk musik/lagu-lagu perjuang­an masa itu disebut "musik fungsional" atau "musik berguna" dengan tujuan utama pada makna dan isi teks, mudah dicerna, gampang dinyanyikan oleh semua lapisan masyarakat.

Di tahun 1946 Mutahar berhasil menggubah lagu mars Hari Kemerde­kaan yang berkarakter brio (bersema-ngat) sehingga selalu dinyanyikan de­ngan semangat pula (con brio). Sedang-kan judul-judul seperti Gembira, Tepuk Tangan Silang-silang, Mari Tepuk, Slamatlah, Jangan Putus Asa, Saat Berpisah dan Pramuka adalah deretan lagu anak-anak ciptaan Mutahar.

Inilah sosok seorang Mutahar. Potret musikus ulung yang rada tenggelam dalam keruwetan negeri ini. Ketika bangsa ini merayakan usia emas 50 tahun (1995) sekali lagi ia diberi kepercayaan oleh pemerintah pusat untuk menggubah lagu khusus yang berjudul "Dirgahayu Indonesiaku" sebagai lagu resmi ulang tahun kemerdekaan ke-50 RI. Inilah karyanya yang terakhir sebe­lum ia tutup usia.
Mutahar memang telah tiada, namun lagu-lagunya akan hidup sepanjang masa, sebab itulah hakekat seni 'ars longa, vita brevis" kata adagium Latin.***

H. Idik Sulaeman

H. Idik Sulaeman Nataatmadja, AT (lahir di Kuningan, Jawa Barat, 20 Juli 1933), atau biasa dipanggil dengan Idik Sulaeman adalah pencetus nama PASKIBRAKA. Adik didik Husein Mutahar di kepanduan ini jugalah yang menyempurnakan seluruh kelengkapan Paskibraka sebagai sebuah Korps, mulai dari sistem/metode pelatihan, silabus, atribut dan kelengkapannya.
Idik menghabiskan masa kecil di daerah kelahirannya, sampai tamat SMP di Purwakarta dan pindah ke Jakarta saat masuk SMA. Sejak kecil, jiwa seni sudah terlihat dalam dirinya. Tak heran bila setamat SMA Idik memilih seni rupa sebagai pilihan profesinya dengan menamatkan pendidikan sebagai sarjana seni rupa di Departemen Ilmu Teknik Institut Teknologi Bandung ITB pada 9 April 1960.
Idik Sulaeman memulai kariernya di Balai Penelitian Tekstil (1960-1964). Pada 1 Februari 1965 ia diangkat menjadi Kepala Biro Menteri Perindustrian dan Kerajinan yang saat itu dijabat Mayjen TNI dr. Azis Saleh.
Dunia seni dan tekstil harus ditinggalkan ketika Idik pindah kerja ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), sebagai Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan pada 1 Desember 1967. Saat inilah, ia banyak membantu Husein Mutahar dalam mewujudkan gagasannya membentuk Paskibraka.
Bersama dengan para pembina lainnya, Idik membantu Mutahar menyempurnakan konsep pembinaan Paskibraka. Pasukan yang pada tahun 1966 dan 1967 diberi nama Pasukan Pengerek Bendera Pusaka, pada tahun 1973 mendapat nama baru yang dilontarkan oleh Idik. Nama itu adalah PASKIBRAKA, yang merupakan akronim dengan kepanjangan PASuKan PengIBar BendeRA PusaKA.
Selain memberi nama, Idik juga menyempurnakan wujud Paskibraka dengan menciptakan Seragam Paskibraka, Lambang Korps, Lambang Anggota, serta Tanda Pengukuhan berupa Lencana Merah-Putih Garuda (MPG) dan Kendit Kecakapan.
Pada 30 Juni 1975, ia diangkat menjadi Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pembinaan Kegiatan di Direktorat Pembinaan Generasi Muda (Ditbinmud). Pada 9 Maret 1977, ia mencapai posisi puncak di Ditbinmud setelah ditunjuk sebagai Pelaksana Harian Direktur Pembinaan Generasi Muda, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga (Ditjen PLSOR). Tiga tahun penuh ia benar-benar menjadi ”komandan” dalam latihan Paskibraka, yakni Paskibraka 1977, 1978 dan 1979.
Pada 24 November 1979, Idik ditarik ke Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Dikdasmen) dan menjabat Direktur Pembinaan Kesiswaan sampai 15 November 1983. Selama empat tahun itu, dengan latar belakang pendidikan seni rupa dan pengalaman kerja di bidang tekstil, Idik mencatat sejarah dalam penciptaan seragam sekolah yang kita kenal sampai sekarang: SD putih-merah, SMP putih-biru dan SMA putih-abu-abu, lengkap dengan lambang sekolah dasar (SD) dan OSIS yang kini selalu melekat di saku kiri seragam sekolah.
Idik menikah dengan Aisah Martalogawa pada 29 Oktober 1961, Idik dikaruniai tiga anak, yakni Ir. Ars Isandra Matin Ahmad (yang beristrikan Ir.ars Retno Audite), Isantia Dita Asiah (yang bersuamikan Drs. Mohammad Imam Hidayat), dan Dra Isanilda Dea Latifah yang bersuamikan Ari Reza Iskandar). Dari ketiganya, Idik memiliki enam orang cucu, masing-masing 3 cucu laki-laki dan 3 cucu perempuan.

Derap langkah Purna Paskibraka

Derap langkah dan gegap gempita aktivitas Paskibraka seantero negeri dalam mempersiapkan dan melaksanakan Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Acara Peringatan Detik-detik Prokalamsi Kemerdekaan RI gaungnya mulai meredup. Tugas sudah selesai dilaksanakan, dan adik-adik dengan bangga telah ikut mendarma baktikan dirinya untuk melaksanakan tugas tersebut.

Di dalam sambutan saat pengukuhan Paskibraka 2009 di Istana Negara, Presiden SBY mengingatkan bahwa para remaja itu terpilih untuk melaksanakan tugas bersejarah dan penuh tantangan pada 17 Agustus 2009. Artinya mulai kini mereka memasuki lembar baru dalam kehidupan masing-masing. "Saya harap agar laksanakan tugas itu dengan baik. Ke depan dengan lembar baru ini kalian benar-benar mengukir kehidupan yang baru sebagai pribadi yang unggul pada cabang profesi apa pun," ujar SBY.
Presiden telah mengingatkan kita semua terutama adik-adik paskibraka yang baru saja selesai melaksanakan tugas, bahwa dalam jangka pendek tugas telah berakhir tetapi lembar kehidupan baru dimasa depan sudah menanti dan diharapkan purna paskibraka sebagai pribadi yang unggul dapat dan harus berprestasi lebih baik lagi dibidang yang lain.

Tugas tahap pertama selesai dan mereka saat ini menjadi purna paskibraka, dan akan bergabung dengan PPI sebagai wadah purna paskibraka di setiap daerah. Tugas jangka panjang di-estafetkan kepada pengurus ppi maupun purna yang lain agar dapat memberikan bimbingan dan arahan kepada adik-adiknya sehingga dapat berprestasi dibidang lain.

Tetapi sebagai pribadi yang unggul, sebaiknya tidak hanya menggantungkan kepada ppi untuk mengembangkan dirinya dimasa depan. Sebagai pribadi harus mau dan terus mengembangkan dirinya agar tumbuh dan mekar dengan baik. Apa yang didapat di pelatihan paskibraka jika baik dapat lebih dikembangkan, jika hanya kekerasan dan contoh tidak baik seperti minum dari satu sedotan, senioritas yang berlebihan, arogansi pelatih, hukuman dengan kekerasan dan lain-lainnya sebaiknya jangan ditiru. Jika dalam pengembangan dirinya yang berkaitan dengan paskibraka mengalami kesulitan cobalah untuk bertanya kepada kakak-kakak lainnya yang mungkin akan mampu menjelaskan lebih rinci dan benar aturan-aturan yang harus diikuti dan dijalankan. PPI sebagai organisasi sudah seharusnya juga terus mengembangkan dirinya agar mampu memberikan dorongan sehingga anggotanya kualitasnya menjadi lebih baik lagi. Jika ppi dapat berperan maka organisasi benar-benar akan dirasakan manfaatnya oleh anggotanya dimana mereka bernaung.  Jika ada PPI yang masih dikuasai oleh oknum untuk kepentingan dirinya sendiri, tentu akan sangat merugikan bagi purna secara keseluruhan. Apabila pengurus ppi juga mengalami kesulitan sebaiknya tidak malu untuk bertanya kepada anggota didaerahnya atau didaerah lain atau kakak-kakak lainnya yang mungkin berada diluar struktur organisasi tetapi memahami tentang konsep pengembangan diri maupun organisasi. Ajaklah mereka sharing dan berbagi pengalaman agar ppi nantinya benar-benar bermanfaat dan mempunyai peran nyata dimasyarakat. Jangan seperti sekarang ini hanya terdengar gaungnya dibulan Agustus saja.

Sebenarnya dalan jangka pendek tidak banyak ukuran yang diinginkan oleh masyarakat terhadap purna paskibraka. Di masyarakat dan lingkungannya, baik dirumah maupun disekolah, kebanggaan sebagai anggota Paskibraka mulai akan mendapat sorotan. Inilah saat mereka dinilai oleh masyarakat dalam 2 katagori :
  1. Pantaskah mereka menjadi anggota paskibraka dan menyandang predikat Purna Paskibraka
  2. Berhasilkah pembinaan Paskibraka yang telah diberikan oleh  PPI atau  militer atau lainnya

Jika terjadi perubahan positip dalam pribadi mereka setelah menjadi paskibraka maka kemungkinan mereka memang pantas menyandang predikat purna paskibraka. Seperti yang dikatakan oleh Presiden SBY mau dan mampukah para purna paskibraka “mengukir kehidupan yang baru sebagai pribadi yang unggul pada cabang profesi apa pun” Positip dalam arti sebagai siswa mereka tidak tertinggal dalam belajar dan nilainya tetap diatas rata-rata, memberikan imbas kedisiplinan di sekolah, semakin santun dan makin mengedepankan etika, mau terlibat dan aktif dalam kegiatan PPI.  Hasil positip ini bisa merupakan pengembangan karakter secara pribadi dari purna paskibraka itu sendiri atau kemungkinan merupakan andil dari hasil pembinaan yang berjalan sistematis sehingga menghasilkan output yang baik.

Jika hasilnya negatip, yaitu prestasi di sekolah melorot drastis, menjadi arogan, menerapkan kekerasan dalam mengajarkan disiplin disekolah, bertindak ugal-ugalan dan semau gue, melatih baris tidak sesuai aturan yang baku dari militer tetapi dari versi apa yang didapat di pelatihan paskibraka atau versi lain, tidak menggunakan etika dalam bersosialisasi, menerapkan senioritas yang berlebihan dalam semua kegiatan agar dipandang mampu padahal nggak mampu, nggak mau aktif dan malas-malasan dikegiatan ppi dan hadir hanya untuk nampang disaat kegiatan seleksi atau 17an tahun berikutnya, mengajarkan dengan ngawur tentang metode tarikan bendera sesuai versinya sendiri, tidak paham tentang tata krama terhadap bendera, dan lain-lainnya.

Jika hasil penilaian yang didapat negatip maka yang paling bertangung jawab adalah para pelatih dan Pembina entah dari purna maupun militer dan lain-lainnya. Berarti pembinaan yang telah mereka berikan tidak mampu diterima dengan baik oleh paskibraka atau memang para pelatih dan Pembina dalam memberikan materi ngawur dan sembarangan.

Seorang yang telah menjadi Paskibraka akan selalu menggendong julukan purna paskibraka apapun hasilnya, akibatnya jika negatip maka seluruh purna akan terkena imbas dampak negatipnya, jika positip maka masyarakat akan berkomentar : pantes dia mampu wong mantan paskibraka, khan mereka orang pilihan.

Untuk menggambarkan positipnya seorang paskibraka, maka prestasi yang sudah melekat pada dirinya  mau tak mau harus menjaga nama baik paskibraka dan menggendongnya terus menerus seperti lagu Mbah Surip :

Tak gendong kemana-mana, Tak gendong nama paskibraka
Paskibraka  mantep donk, Daripada kamu tidak berprestasi
Mendingan aku jadi Paskibraka to
Gagah to, mantep to, Ayo….   Mana Prestasimu, Tunjukkan tau
Tak gendong nama paskibraka, Tak gendong merah putihnya
Where are you going ? Ok I'm walking
Where are you going ? Ok my darling
MANTEP TO, ha ha ha ha

Tetapi jika hasilnya negatip, maka cukup menyanyi plesetan  lagu Kuburan sambil bercanda
Lupa, lupa lupa lupa, lupa jadi paskibraka
Lupa, lupa lupa lupa, lupa ajaran baiknya

Ingat, ingat ingat ingat, cuma ingat push up nya
Ingat, aku ingat ingat, cuma ingat dendamnya

Ayo kita sikat saja adik kita, biar tahu rasa
Ayo kita nggak usah pakai aturan, pakai saja aturan kita sendiri saja

Lupa, lupa lupa lupa, lupa merah putihnya
Lupa, lupa lupa lupa, lupa makna didalamnya

Ingat, ingat ingat ingat, cuma ingat push up nya
Ingat, aku ingat ingat, cuma ingat dendamnya

Wah kalau hasilnya negatip, percuma pernah menjadi anggota paskibraka, hilang sudah calon batu intan yang akan berkilau karena jatuh dan terpendam dikuburan. Kalau ada yang masih keras kepala dan tetap bersikap seperti bukan seorang yang pernah mengenyam pendidikan Paskibraka mending menemani mbah surip di kuburan saja.

Tetapi saya yakin tidak semua purna paskibraka menginginkan batu intan-batu intan itu terpendam dan hilang tidak berkilau bagi bangsa ini. Marilah kita bersama-sama bergandeng tangan terus membantu menggosoknya agar berkilau dan menjadi batu intan bangsa. Daripada semakin kusam marilah kita dorong adik-adik kita agar dapat  menggendong nama paskibraka dengan baik, iya to mantep to, enak to, dan tersenyum serta tertawa bersama dengan bahagia ha ha ha ha ha……………….

Adik-adik janganlah takut dalam melangkah, langkahkan kakimu sesuai koridor yang ada. Jika masih ada yang belum jelas jangan sungkan-sungkan untuk bertanya kepada seluruh kakak-kakaknya dimanapun berada, agar pengetahuanmu semakin komplit sehingga dapat berprestasi dibidang yang lain. Kaki sudah berderap melangkah dalam irama langkah tegap, janganlah mundur lagi atau hilang derapnya. Teruskan ayunan langkahmu menuju Indonesia baru, karena engkaulah calon-calon pemimpin bangsa dimasa depan.

Jika adik-adik masih ragu, nyanyikanlah lagu Slank : Jangan Takut
Reff
Jangan takut keluarlah, Hadapi dunia dengan menari
Jangan takut ayo keluar, Hadapi dunia dengan menari

Berhayalah seluas biru langit, Berpikirlah sedalam biru laut
Horizontal sama rata sama rasa

Reff
Melihatlah seterang sinar sunset, Menataplah sebinar cahaya sunrise
Terang benderang 2x

Selamat berkarya bagi bangsa ini wahai para purna paskibraka.