Rabu, 06 April 2011

SEJARAH LAGU INDONESIA RAYA

Mengapa saya ambil tema dan judul lagu indonesia raya karena lagu indonesia raya merupakan salahsatu lagu nasional dan juga lagu kebangsaan indonesia.
Lagu Indonesia Raya diciptakan tahun pada tahun 1924 bertempatkan di Bandung, pada waktu ia berusia 21 tahun pertama kali dimainkan pada Kongres Pemuda (Sumpah Pemuda) tanggal 28 Oktober 1928. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesiapada tanggal 17 Agustus 1945, lagu yang dikarang oleh Wage Rudolf Soepratman ini dijadikan lagu kebangsaan.
Setelah dikumandangkan tahun 1928, pemerintah kolonial Hindia Belanda segera melarang penyebutan lagu kebangsaan bagi Indonesia Raya. Belanda ,yang gentar dengan konsep kebangsaan Indonesia, dan dengan bersenjatakan politik divide et imperalebih suka menyebut bangsa Jawa, bangsa Sunda, atau bangsa Sumatra, melarang penggunaan kata, Merdeka.
Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka ikuti lagu itu dengan mengucapkan "Mulia, Mulia!", bukan "Merdeka, Merdeka!" pada refrein. Akan tetapi, tetap saja mereka menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan.
Selanjutnya lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan pada setiap rapat partai-partai politik. Setelah Indonesia Merdeka, lagu itu ditetapkan sebagai lagu Kebangsaan perlambang persatuan bangsa.
Yang pasti, lagu Indonesia Raya yang asli berdurasi tiga menit 49 detik merupakan lagu kebangsaan terpanjang di dunia. Bila pada tiap tanggal 17 Agustus kita memperingati HUT Kemerdekaan RI, berarti sekaligus merupakan hari wafat WR Soepratman. Karena, ia wafat pada 17 Agustus 1939, di Surabaya.
Lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya versi asli dengan tiga stanza adalah:
Stanza 1:
Indonesia Tanah Airkoe Tanah Toempah Darahkoe
Di sanalah Akoe Berdiri Djadi Pandoe Iboekoe
Indonesia Kebangsaankoe Bangsa Dan Tanah Airkoe
Marilah Kita Berseroe Indonesia Bersatoe

Hidoeplah Tanahkoe Hidoeplah Negrikoe
Bangsakoe Ra'jatkoe Sem'wanja
Bangoenlah Djiwanja Bangoenlah Badannja
Oentoek Indonesia Raja

(Reff: Diulang 2 kali, red)
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja
Stanza 2:
Indonesia Tanah Jang Moelia Tanah Kita Jang Kaja
Di sanalah Akoe Berdiri Oentoek Slama-Lamanja
Indonesia Tanah Poesaka P'saka Kita Semoenja
Marilah Kita Mendo'a Indonesia Bahagia

Soeboerlah Tanahnja Soeboerlah Djiwanja
Bangsanja Ra'jatnja Sem'wanja
Sadarlah Hatinja Sadarlah Boedinja
Oentoek Indonesia Raja

(Reff: Diulang 2 kali, red)
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja

Stanza 3:

Indonesia Tanah Jang Seotji Tanah Kita Jang Sakti
Di sanalah Akoe Berdiri 'Njaga Iboe Sedjati
Indonesia Tanah Berseri Tanah Jang Akoe Sajangi
Marilah Kita Berdjandji Indonesia Abadi

S'lamatlah Ra'jatnja S'lamatlah Poetranja
Poelaoenja Laoetnja Sem'wanja
Madjoelah Negrinja Madjoelah Pandoenja
Oentoek Indonesia Raja

(Reff: Diulang 2 kali, red)
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja.
(*)

Referensi:

Sejarah lagu INDONESIA RAYA

Ketika mempublikasikan Indonesia Raya tahun 1928, Wage Rudolf Soepratman dengan jelas menuliskan "lagu kebangsaan" di bawah judul Indonesia Raya. Teks lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali oleh suratkabar Sin Po.
Setelah dikumandangkan tahun 1928, pemerintah kolonial Hindia Belanda segera melarang penyebutan lagu kebangsaan bagi Indonesia Raya.
Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka ikuti lagu itu dengan mengucapkan "Mulia, Mulia!", bukan "Merdeka, Merdeka!" pada refrein. Akan tetapi, tetap saja mereka menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan.[rujukan?]
Selanjutnya lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan pada setiap rapat partai-partai politik. Setelah Indonesia merdeka, lagu itu ditetapkan sebagai lagu Kebangsaan perlambang persatuan bangsa.
Namun pada saat menjelaskan hasil Festival Film Indonesia (FFI) 2006 yang kontroversial dan pada kompas tahun 1990-an, Remy Sylado, seorang budayawan dan seniman senior Indonesia mengatakan bahwa lagu Indonesia Raya merupakan jiplakan dari sebuah lagu yang diciptakan tahun 1600-an berjudul Lekka Lekka Pinda Pinda. Kaye A. Solapung, seorang pengamat musik, menanggap tulisan Remy dalam Kompas tanggal 22 Desember 1991. Ia mengatakan bahwa Remy hanya sekadar mengulang tuduhan Amir Pasaribu pada tahun 1950-an. Ia juga mengatakan dengan mengutip Amir Pasaribu bahwa dalam literatur musik, ada lagu Lekka Lekka Pinda Pinda di Belanda, begitu pulaBoola-Boola di Amerika Serikat. Solapung kemudian membedah lagu-lagu itu. Menurutnya, lagu Boola-boola dan Lekka Lekka tidak sama persis dengan Indonesia Raya, dengan hanya delapan ketuk yang sama. Begitu juga dengan penggunaan Chord yang jelas berbeda. Sehingga, ia menyimpulkan bahwa Indonesia Raya tidak menjiplak.[1]

Rabu, 05 Januari 2011

Ilyas Karim

SOSOK: ILYAS KARIM
(Sang Pengibar Bendera Pusaka Bercelana Pendek)

Ilyas Karim (Celana Pendek)Bendera Pusaka Sampai menjelang peringatan 63 Tahun Indonesia Merdeka, tak banyak orang tahu siapa sebenarnya pemuda bercelana pendek yang mengibarkan bendera pusaka seusai proklamasi tahun 1945. Dia adalah Ilyas Karim dan masih ada di tengah-tengah kita.

Pagi itu, tanggal 17 Agustus 1945, Ilyas Karim dan teman-temannya dari Angkatan Muda Islam (AMI) sedang berkumpul di markas mereka, Jalan Menteng 31. Seperti biasa, anak-anak muda nasionalis itu selalu serius membicarakan situasi politik terakhir menjelang kemerdekaan Indonesia. Tanpa diundang, tiba-tiba datanglah Latief Hendraningrat, salah satu ChuDancho (komandan) PETA (Pembela Tanah Air) di Jakarta. ”Ayo, kamu semua ikut saya ke Pegangsaan Timur. Di sana mau ada keramaian!” ajaknya. Tanpa banyak komentar, bersama sekitar 50 orang anggota AMI, Ilyas bergegas. Sesampainya di sana, mereka segera bergabung dengan banyak orang yang sudah hadir lebih dulu. Cuaca pagi itu tidak begitu panas dan suasana di rumah besar itu tampak tenang. Daerah sekitar Pegangsaan Timur dijaga ketat oleh anggota PETA. Keluar dari dalam sebuah ruangan, Latief kembali menemui Ilyas. Tanpa basa-basi ia bertanya, ”Kamu bisa mengibarkan bendera nggak?” Ilyas yang saat itu tidak menggunakanalas kaki segera menjawab, ”Bisa Pak!” ”Baik, nanti kamu bertugas mengibarkan bendera bersama Singgih,” perintah Latief. Pada sekitar pukul sepuluh pagi, peristiwa bersejarah itupun terjadi. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pun dilaksanakan. Didampingi Bung Hatta, Bung Karno membacakan naskah Proklamasi yang menandai diumumkannya pernyataan kemerdekaan Indonesia di depan rumah nomor 56 itu. Tak lama setelah itu, Latief Hendraningrat Latief menuju ke pintu rumah Bung Karno. Dari tangan Ibu Fatmawati, Latief menerima sebuah bendera berwarna Merah-Putih. (Bendera yang dijahit sendiri oleh Ibu Fatmawati dari dua carik kain yang diperolehnya dengan susah payah itu kelak disebut sebagai bendera pusaka). Berbalik ke halaman, bendera itu diserahkan Latief kepada Singgih yang memakai seragam PETA (karena ia juga salah seorang ChuDancho) dan Ilyas Karim yang mengenakan celana pendek. Kedua pemuda itu segera menuju tiang bendera. Di depan tiang, Singgih meraih tali dan mengikatkan bendera. Setelah siap, Latief memberi aba-aba penghormatan kepada bendera dan seluruh hadirin memberikan penghormatan. Diiringi paduan suara sebuah sekolah yang menyanyikan lagu Indonesia Raya, Singgih menarik tali dan mengerek bendera Merah Putih naik perlahan ke puncak tiang. Ilyas memegangi bagian tali yang lain sambil mengulurnya mengikuti tarikan Singgih dan menjaga agar bendera berkibar tidak terjepit. Akhirnya, bendera sampai di puncak tiang. Dan itulah kali pertama bendera Merah Putih berkibar secara resmi sebagai bendera kebangsaan Republik Indonesia.

Ilyas KarimFoto Ilyas mengibarkan bendera kini terabadikan dalam buku-buku sejarah. Tubuh cekingnya tampak mengenakan kemeja dan celana pendek putih, sementara Singgih mengenakan seragam tentara lengkap. Bung Karno, Bung Hatta, dan Ibu Fatmawati mendongak ke atas menyaksikan bendera yang mulai naik ke puncak tiang. (Foto itu merupakan satu dari dua foto peristiwa proklamasi yang paling terkenal). Seusai upacara, Bung Karno mengajak hadirin masuk ke ruang tengah rumahnya untuk menyantap makanan ringan. Ilyas bergabung dengan tamu yang lain dan ikut makan kue, termasuk kue bolu yang didatangkan dari Senen. Bung Karno menghampiri Ilyas dan kawan-kawan sembari memberi wejangan. ‘’Kalian para pemuda. Belajarlah yang sungguh-sungguh. Kalau berdagang, berdaganglah yang sungguh – sungguh” ucap sang founding father. Namun, beberapa saat kemudian, ada yang menyuruh agar kue - kue dibawa keluar dan dimakan di halaman. Ternyata, itu hanya cara para pemimpin ”mengusir” hadirin secara halus dari dalam rumah. Bung Karno, Bung Hatta dan para tokoh politik kemudian mengadakan pertemuan di dalam rumah itu. Ilyas sendiri tak tahu apa yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut. Bersama teman-temannya ia ikut keluar ke halaman, lalu membubarkan diri setelah semua hadirin pulang. Sesampainya di rumah, Ilyas segera menemui ibunya dan menceritakan kalau tadi ia bertugas mengibarkan bendera Merah Putih di Pegangsaan Timur seusai Bung Karno membacakan naskah Proklamasi. Ibunya sangat gembira dan berkata, ”Syukur Alhamdulillah. Akhirnya kita merdeka juga, ya. Semoga apa yang kamu lakukan tadi dapat ridho dari Allah.”

Itulah sebuah pengalaman yang detilnya begitu lekat di kepala Ilyas Karim, sampai kini usianya mencapai 80 tahun lebih. Perannya sangat besar, walaupun di hari-hari seputar Agustus 1945 itu semuanya seolah ”lenyap” ditelan hingar-bingar suara mengelu-elukan Soekarno-Hatta dan kegembiraan mencapai kemerdekaan. “Saat itu, dari AMI ada 50 pemuda yang ikut ke Pegangsaan Timur 56. Saya juga tidak mengerti, mengapa akhirnya saya yang dipilih oleh Latief untuk ikut mengibarkan bendera. Barangkali, ini hanya keberuntungan saya,” katanya. Pada 17 Agustus 1945 itu, anak-anak muda AMI memang diberi tugas oleh Chaerul Shaleh untuk mengawal prosesi proklamasi kemerdekaan di Pegangsaan Timur. ChuDancho Singgih, yang saat itu tentara PETA, ditugaskan mengerek bendera. Latief Hendraningrat-lah yang kemudian menugaskan Ilyas membantu Singgih memegangi bendera. Dari 50-an pemuda AMI, kebetulan Ilyas yang paling muda, 18 tahun, dan badannya paling kecil. ‘’Dipikirnya saya yang paling gesit,’’ kata dia sembari terkekeh. Untungnya Ilyas punya pengalaman mengibarkan bendera ketika sekolah tarbiyah di Banten. Bedanya yang ia kibarkan saat itu adalah bendera Belanda. Lagunya pun lagu kebangsaan Belanda. Dipilih mengibarkan bendera saat proklamasi, kontan saja Ilyas merasa bangga Peristiwa itu mahapenting. ‘’Itu adalah titik balik bagi Indonesia dari bangsa budak menjadi bangsa merdeka. Dan, saya terlibat dalam peristiwa paling bersejarah itu,’’katanya.
Keberuntungan itu bagi Ilyas merupakan sebuah anugerah yang pantas disyukuri. Namun, bagi pemuda Indonesia, sosok Ilyas Karim yang muncul sebagai salah satu pelaku sejarah kemerdekaan adalah sebuah simbol. Dan bagi Paskibraka, sosok Ilyas bukan saja mewakili pemuda, tapi juga remaja berusia 18 tahun yang kemudian mengilhami gagasan pengibaran bendera pusaka oleh Paskibraka.

Pesan-pesan Pembina

Husein Mutahar
HUSEIN MUTAHAR
(Lahir : Semarang, 5 Agustus 1916, Wafat : Jakarta, 9 Juni 2004)


Kebutuhan dunia yang terbesar adalah kebutuhan akan manusia...
Manusia yang tidak mau dijual, juga tidak mau dibeli.
Manusia yang dalam lubuk hatinya ada kebenaran dan kejujuran.
Manusia yang tidak takut untuk menyebut dosa dengan kebenaran namanya sendiri.
Manusia yang nuraninya teguh terhadap kesajiban patuhnya jarum kompas menjunjukkan arah kutub.
Manusia yang tegar membela kebenaran meski langit runtuh menimpanya.

Namun, watak seperti itu bukanlah sesuatu yang tercipta secara kebetulan.
Bukan kemurahan hati atau imbalan jasa dari orang lain.
Watak luhur adalah hasil penataan dan disiplin diri.
Hasil dari sikap merendah terhadap kekuasaan alam.
Hasil pasrah diri untuk mengabdi kepada Tuhan dan sesama manusia dengan penuh rasa kasih sayang...



Dharminto Surapati
DHARMINTO SURAPATI
(Lahir : 20 Agustus 1932, Wafat : Jakarta, 7 September 2007)


Seorang manusia semakin lama akan semakin tua.
Satu demi satu, kami yang tua-tua ini akan pergi dan tak selamanya berada diantara kalian.
Jangan biarkan kepergian kami tanpa jejak dan peninggalan.
Jadilah semua "Roda Gendheng" yang mampu terus berputar dan memutar roda-roda lainnya meski sumber tenaga awalnya sudah tidak mempunyai kekuatan lagi...



Idik Sulaeman
IDIK SULAEMAN

Karena benda inilah (Red:bendera merah putih) kita berkumpul di Desa Bahagia...
Saling kenal, saling bercerita, saling cinta dalam satu rasa: Aku Putera Indonesia.
Meskipun hanya kenangan saat menjadi anggota Paskibraka,
Jiwa dan semangatnya terasa abadi dan lestari.
Pertahankanlah terus dan selalu kobar-kobarkanlah jiwa dan semangat itu!


Bunda Bunakim
BUNDA BUNAKIM
(Lahir : Tahun 1917, Wafat : Juli 2005)


Dalam bekerja, kalian harus selalu menjadi kuli-kuli kencang yang tidak punya "wudhel" (pusar).
Yaitu orang yang mampu bekerja keras dan terus mengabdi untuk kepentingan sesama tanpa mengharapkan pamrih apapun juga.
Jangan mundur dari apa yang diniatkan.
Cita-cita harus tercapai bila kalian sudah terlanjur basah.
The show must go on, move forward and never retreat!

Bendera Pusaka Milik Siapa?

Sebagaimana biasa, setiap memperingati HUT Kemerdekaan 17 Agustus, Bung Karno sebagai presiden selalu menyampaikan pidato. Dan, setiap pidato selalu diberi judul tertentu sesuai dengan tema dan keadaan waktu itu. Demikian pula halnya pada HUT RI ke-19 tahun 1964, Bung Karno menyampaikan pidato berjudul ”Tahun Vivere Pericoloso”. Kata Vivere Pericoloso diambil dari bahasa Italia, yang artinya ”...hidup menyerempet nyerempet bahaya”.


Pada bagian depan pidato itu Bung Karno jelas-jelas menyebutkan bahwa bendera Merah-Putih pusaka yang hanya dikibarkan pada setiap tanggal 17 Agustus, dulunya dijahit oleh Fatmawati, istrinya yang berasal dari Bengkulu. Dan, dengan fakta sejarah itu pulalah, Bung Karno kemudian pernah mengklaim bahwa bendera pusaka itu miliknya pribadi. Apalagi, sebagaimana kisah penyelamatan bendera pusaka yang demikian heroik oleh Husein Mutahar saat datangnya agresi Belanda kedua pada tahun 1948. Bendera itu dititipkan pada Mutahar dengan perjanjian harus diserahkan kembali kepadanya. Mutahar menepati janjinya dan bendera pusaka kemudian diserahkan langsung kepada Bung Karno.
Sejak itu, Bung Karno menyimpan sendiri bendera pusaka. Dari tahun 1950, pengibaran bendera pusaka dilaksanakan di Istana Merdeka dengan Bung Karno sebagai Inspektur Upacara. Tapi, itu berlangsung hanya sampai tahun 1966, karena tak lama kemudian, pada Maret 1967, Bung Karno ”dilengserkan” secara paksa melalui Sidang Istimewa MPRS.

Sidang yang sama telah mengangkat Jenderal Soeharto menjadi Pejabat Presiden. Ketika berkunjung ke rumahnya pada tahun 1993, Mutahar pernah mengisahkan sebuah cerita yang menurutnya hanya pernah diketahui segelintir orang, dan ”rasanya tidak terlalu penting untuk diceritakan,” katanya.
Mutahar menyebutkan, bagaimana pada tahun 1967 ia mendapat perintah untuk mempersiapkan pengibaran bendera pusaka pada tanggal 17 Agustus. Sebagai Dirjen Udaka (Urusan Pemuda dan Pramuka) di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P&K), Mutahar memang sedang ingin mewujudkan gagasannya untuk menyerahkan pengibaran bendera pusaka itu kepada para pemuda utusan daerah. Segala sesuatu pun dipersiapkan, termasuk memanggil puluhan pemuda dan pramuka untuk dilatih menjadi Pasukan Penggerek Bendera Pusaka. Latihan ”ujicoba” pasukan pertama itu berlangsung mulus. Tapi, sesuatu yang ”fatal” hampir saja terjadi. ”Pasukan Penggerek Bendera Pusaka sudah siap beberapa hari sebelum 17 Agustus, namun para penanggungjawab upacara baru sadar kalau bendera pusaka yang akan dikibarkan ternyata tidak ditemukan,” papar Mutahar. Orang lain pasti akan berpikir sederhana untuk mengatasi masalah itu. Bikin saja bendera pengganti, toh tidak ada orang yang tahu. Tapi tidak demikian untuk ”seseorang” seperti Soeharto. Keberadaan bendera pusaka tak dapat digantikan dengan apapun. Orang akan menganggap ”tidak sah” bila tahu awal masa kepemimpinannya dimulai tanpa bendera pusaka. Akhirnya diketahuilah bahwa bendera pusaka masih berada di tangan Bung Karno. Akan tetapi mereka tidak tahu bagaimana caranya mengambil bendera itu. ”Dalam kebingungan itu, saya dipanggil ke Istana. Hanya sedikit orang yang tahu bagaimana menghadapi Bung Karno pada saat-saat seperti itu. api saya tahu sifat beliau. Maka saya bilang, kirimkan keempat Panglima Angkatan untuk meminta bendera itu,” papar Mutahar. ”Tebakan” Mutahar ternyata benar.

Bung Karno yang sudah ”diistirahatkan” di Bogor menjadi lembut hatinya ketika didatangi. Memang mulanya agak ragu-ragu, tapi beberapa saat kemudian Bung Karno berkata dengan tenang. ”Baik, tanggal 16 Agustus kalian datang lagi ke sini, lengkap dengan semua Panglima keempat Angkatan. Saya akan lakukan acara resmi serah terima bendera pusaka...” . Maka, sebagaimana dijanjikan, pada tanggal 16 Agustus malam, keempat Panglima Angkatan —sebutan untuk pimpinan ABRI dan Polri masa itu— menghadap ke Istana Bogor. Tanpa diduga, mereka kemudian diajak balik lagi ke Jakarta dan akhirnya menuju ke Monumen Nasional (Monas). Ternyata, selama itu bendera pusaka memang disimpan Bung Karno dalam ruang bawah tanah di dalam Monumen Nasional. Bendera pusaka kemudian dibawa ke Istana Merdeka. Atas perintah Presiden Soeharto, Mutahar dipanggil ke Istana untuk memastikan apakah bendera pusaka itu memang asli. Hanya Mutahar, satu-satunya orang yang tahu betul bentuk bendera pusaka, karena dia yang membuka jahitan tangan Ibu Fatmawati. Dia pula yang menyambungkan kembali bagian merah dan putih dengan mesin jahit — dan terjadi kesalahan jahit kecil sekitar 2 cm di ujungnya. Sejak itu, Soeharto menempatkan bendera pusaka di Istana, dalam sebuah kotak kayu berukir yang di dalamnya diberi potongan kayu cendana sehingga berbau harum bila dibuka. Bendera pusaka yang sudah usang itu selalu diperlihatkan kepada para anggota Paskibraka setiap tanggal 16 Agustus, untuk membangkitkan semangat mereka sebelum bertugas esok hari. Memang terbetik berita, bendera pusaka rencananya akan kembali ditempatkan di Monumen Nasional. Berbagai persiapan telah dirancang, termasuk rencana mengarak bendera pusaka dari Istana Merdeka ke Monas yang jaraknya hanya beberapa ratus meter, yang konon menelan biaya tidak kecil. Namun, rencana itu belum terwujud. Begitulah, bendera pusaka memang dijahit oleh Ibu Fatmawati. Dikibarkan sesaat setelah dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di depan kediaman Bung Karno, Jalan PegangsaanTimur 56 Jakarta. Disimpan dan dijaga Bung Karno dengan segenap jiwa dan raga. Tapi, Bung Karno juga tahu, bahwa bendera pusaka adalah sebuah prasasti yang dimiliki oleh seluruh bangsa Indonesia, bukan miliknya pribadi.

Antara Soekarno dan Soeharto

Sebuah Pengalaman Pribadi Husein Mutahar
Apa yang dikisahkan berikut ini merupakan pengalaman pribadi Kak Mutahar bersama dua orang nomor satu di Republik Indonesia: Soekarno dan Soeharto. Diakui Kak Mut, pendapat pribadinya belum tentu sama dengan orang lain. "Sebagai mantan ajudan dan staf, aku mikul dhuwur mendhem jero, sehingga yang kucerita-kan kebaikannya saja. Soal kekurangannya, biarlah orang lain yang menceritakan," ujar Kak Mut.
Beberapa kali cerita ini dipaparkan kepada saya, sebagian di antaranya di depan teman-teman Paskibraka '78 yang lain. Kak Mut sering bilang, kisah ini sebenarnya tidak terlalu penting. Tapi saya melihat sebaliknya: sebagai sebuah sisi penting yang menunjukkan siapa sebenarnya seorang Husein Mutahar. (Budi W)

Mutahar dan Soekarno 
BUNG Karno (BK) lahir di Blitar dan tumbuh di masa sulit serta penuh perjuangan. Sebagai orang Jawa Timur bicaranya cep las ceplos tanpa tedeng aling-aling. Suaranya mungkin terdengar kasar, tetapi memang itulah Soekarno. Kalau sedang marah, semua keluar dengan seketika. Tapi, secepat itu pula ia minta maaf bila merasa ada kata-katanya yang menyinggung perasaan.
Suatu hari, ajudan BK datang ke rumahku dan bilang, "Pak Mutahar dipanggil menghadap Bapak (BK) di istana." Aku jawab, "Baik, saya ganti baju dulu dan nanti menyusul ke istana." Tetapi si ajudan bertahan, "Tadi Bapak pesan Pak Mutahar harus ikut bersama saya."
Wah, sepertinya penting sekali. Maka aku bergegas, dan sesampai di istana langsung menuju ke ruang kerjanya. Kulihat muka BK kusut dan sepertinya sedang marah besar. "Mut, kamu tahu kenapa aku panggil?" Aku menjawab santai, "Lha ya nggak tahu. Wong Bapak yang manggil saya, mana saya tahu."
"Aku mau marah!" hardik BK lagi. "Ya marah aja. Mau marah kok nunggu saya," jawabku sekenanya, karena aku kenal betul sifatnya.
Ternyata, jawabanku itu membuatnya benar-benar marah. Dalam bahasa Belanda BK mengeluarkan unek-uneknya selama hampir dua jam, padahal aku tidak tahu sebabnya. Aku mendengarkan saja, sampai kemarahan itu kendor dan akhirnya BK diam. Aku lalu bilang, "Bung, marahnya sudah selesai kan? Kalau sudah, aku tak pulang..."
BK langsung melotot ke arahku. Dalam hati aku berkata, "Wah, salah omong aku. Bisa-bisa dia marah lagi..." Tapi ternyata tidak, karena mata-nya kembali meredup. "Ya sudah, pulang sana!" katanya memerintah.
"Kalau begitu saya pamit," jawabku sambil keluar dan terus pulang. Tapi tak lama kemudian, ajudannya datang lagi ke rumahku.
Aku langsung menyambar, "Ada apa? Saya dipanggil lagi untuk dima-rahi ya?" Sang ajudan cuma mesem-mesem. "Nggak kok Pak Mut. Saya disuruh Bapak ngantar ini," katanya sambil menyerahkan tas — yang setelah kubuka ternyata isinya berbagai macam kue.
Sambil mengucapkan terima kasih kepad si ajudan, aku tersenyum. "Dasar wong gendeng. Kalau bar nesu (habis marah) ngirimi kue, ya sering-sering aja marah biar giziku terjamin," kataku dalam hati.
Esoknya aku bertemu lagi dengan BK dan kulihat wajahnya sumri-ngah. Maka aku menegur, "Bung, kalau masih mau marah sama saya, silahkan. Tapi jangan lupa kuenya dikirim lagi."
BK tertawa keras. "Mut, kamu tahu kenapa saya marah?" Aku menjawab, "Ya nggak tahulah. Wong Bapak marahnya banyak sekali, jadi saya nggak ingat."
"Makanya aku panggil kamu untuk aku marahi. Lantaran aku tahu kamu pasti tutupi kupingmu dengan kapas biar nggak dengar omong-anku," kata BK sambil ngeloyor pergi. ***
Mutahar dan Soeharto  
PAK Harto lahir dan besar di Yogyakarta dan sekitarnya. Begitu juga selama masa perjuangan, ia banyak berkiprah di tanah kelahiran-nya. Maka tak aneh jika sifatnya lembut. Kultur Jawa-nya sangat kental, tutur katanya halus dan pandai menyimpan perasaan. Kalau menegur pasti menggu-nakan krama halus, dan sebagai orang Jawa suka memakai bahasa simbol dan lebih sulit dipahami.
Pada suatu hari di awal bulan Agustus 1968, aku dipanggil menghadap ke istana. Berdua saja di ruang kerjanya, dengan sebuah kotak berukir di atas meja, Pak Harto memulai pembicaraan. "Pak Mutahar kan tahu bahwa bendera pusaka sudah cukup tua dan kondisinya semakin rapuh. Saya ingin menggantinya agar tidak robek pada saat dikibarkan di hari kemerde-kaan nanti. Bagaimana pendapat Bapak?"
Aku terdiam beberapa saat dan mencari jawaban yang tepat. "Pak Harto," kataku dengan hati-hati, "saya tahu bendera pusaka sudah rapuh. Tapi kalau boleh saya memberi saran, sebaiknya bendera pusaka tetap dikibarkan sekali lagi tahun ini. Setelah itu, mau diganti dengan bendera lain terserah Bapak."
"Mengapa harus tetap dikibarkan?" tanya Pak Harto lagi.
"Karena ini adalah bendera Merah Putih yang perta-ma kali dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan. Jadi sebaiknya bendera ini dikibarkan juga pada saat estafet kepemimpinan beralih ke tangan Bapak, selain sebagai ungkapan rasa hormat dan terima kasih kepada para pejuang kemerdekaaan," ujarku menjelaskan. Tahun 1968, memang tahun pertama Pak Harto menjabat Presiden RI setelah dilantik dalam Sidang Umum MPRS, 27 Maret 1968.
Pak Harto tersenyum dan kemudian berkata, "Baik-lah, pendapat bapak akan saya pertimbangkan. Tetapi saya masih mau minta tolong kepada Pak Mutahar untuk memastikan apakah bendera yang ada didalam kotak ini benar-benar bendera pusaka yang asli. Saya tahu Pak Mutahar yang menyelamatkan bendera pusaka pada saat perjuangan dulu, jadi pasti bisa mengenalinya."
Aku kaget setengah mati. Bagaimana kalau bendera yang di dalam kotak itu bukan bendera pusaka, wah, bisa celaka aku. Aku berpikir keras bagaimana caranya bisa meyakinkan Pak Harto tentang keaslian bendera pusaka tanpa harus memeriksanya sendiri. "Maaf Pak Harto. Bukan saya tidak mau memenuhi permintaan Bapak, tetapi biarlah saya jelaskan secara detail ciri-cirinya, setelah itu silahkan Bapak memeriksa dan memastikan sendiri keaslian bendera pusaka. Jika ciri-cirinya cocok berarti asli," ujarku dan setelah itu cepat-cepat mohon pamit.
Nyatanya, Pak Harto mendengarkan usulanku. Bendera dalam kotak itu memang asli bendera pusaka. Dan, pada puncak upacara HUT Proklamasi 1968, bendera pusaka yang asli itu kembali berkibar di tiang 17 Istana Merdeka Jakarta.

H. Mutahar Bapak Paskibraka

Peristiwa itu terjadi beberapa hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pertama. Presiden Soekamo memanggil ajudannya, Mayor (Laut) M. Husain Mutahar dan memberi tugas agar segera mempersiapkan upacara peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1946, di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.

Ketika sedang berpikir keras menyu-sun acara demi acara, seberkas ilham berkelebat di benak Mutahar. Persatuan dan kesatuan bangsa, wajib tetap dilestarikan kepada generasi penerus yang akan menggantikan para pemimpin saat itu. "Simbol-simbol apa yang bisa digunakan?" pikirnya.

Pilihannya lalu jatuh pada pengibaran bendera pusaka. Mutahar berpikir, pengibaran lambang negara itu sebaiknya dilakukan oleh para pemuda Indonesia. Secepatnya, ia menunjuk lima pemuda yang terdiri dari tiga putri dan dua putra. Lima orang itu, dalam pemikiran Mutahar, adalah simbol Pancasila.

Salah seorang pengibar bendera pusaka 17 Agustus 1946 itu adalah Titik Dewi Atmono Suryo, pelajar SMA asal Sumatera Barat yang saat itu sedang menuntut ilmu dan tinggal di Yogyakarta. Sampai peringatan HUT Kemerdekaan ke-4 pada 17 Agustus 1948, pengibaran oleh lima pemuda dari berbagai daerah yang ada di Yogyakarta itu tetap dilaksanakan.

Sekembalinya ibukota Republik Indonesia ke Jakarta, mulai tahun 1950 pengibaran bendera pusaka dilaksanakan di Istana Merdeka Jakarta. Regu-regu pengibar dibentuk dan diatur oleh Rumah Tangga Kepresidenan Rl sampai tahun 1966. Para pengibar bendera itu memang para pemuda, tapi belum mewakili apa yang ada dalam pikiran Mutahar.

Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka sejak ibukota negara dipindahkan dari Yogyakarta. Upacara Peringatan Proklamasi Kemerdekaan diadakan di Istana Merdeka Jakarta sejak 1950 sampai 1966. Ia pun seakan hilang bersama impiannya. Na-mun, ia mendapat "kado ulang tahun ke-49" pada tanggal 5 Agustus 1966, ketika ditunjuk menjadi Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka (Dirjen Udaka) di Departemen Pendidikan & Kebudayaan (P&K). Saat itulah, ia kembali teringat pada gagasannya tahun 1946.

Setelah berpindah-pindah tempat ker-ja dari Stadion Utama Senayan ke eks gedung Departemen PTIP di Jalan Pe-gangsaan Barat, Ditjen Udaka akhirnya menempati gedung eks Departemen Te-naga Kerja dan Transmigrasi (Naker-trans) Jalan Merdeka Timur 14 Jakarta. Tepatnya, di depan Stasiun Kereta Api Gambir.

Dari sana, Mutahar dan jajaran Udaka kemudian mewujudkan cikal bakal latihan kepemudaan yang kemudian diberi nama "Latihan Pandu Ibu Indonesia BerPancasila". Latihan itu sempat diujicoba dua kali, tahun 1966 dan 1967. Kurikulum ujicoba "Pasukan Penggerek Bendera Pusaka" dimasukkan dalam latihan itu pada tahun 1967 dengan peserta dari Pramuka Penegak dari beberapa gugus depan yang ada di DKI Jakarta.

Latihan itu mempunyai kekhasan, teru-tama pada metode pendidikan dan pelatihannya yang menggunakan pen-dekatan sistem "Keluarga Bahagia" dan diterapkan secara nyata dalam konsep "Desa Bahagia". Di desa itu, para peserta latihan (warga desa) diajak berperan serta dalam menghayati kehidupan sehari-hari yang menggambarkan peng-hayatan dan pengamalan Pancasila.

Saat Ditjen Udaka difusikan dengan Ditjen Depora menjadi Ditjen Olahraga dan Pemuda, lalu berubah lagi menjadi Ditjen Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga (Diklusepora), salah satu direktorat di bawahnya adalah Direktorat Pembinaan Generasi Muda (PGM). Direktorat inilah yang kemudian meneruskan latihan dengan lembaga penyelenggara diberi nama "Gladian Sentra Nasional".
Tahun 1967, Husain Mutahar kembali dipanggil Presiden Soeharto untuk dimintai pendapat dan menangani masalah pengibaran bendera pusaka. Ajakan itu, bagi Mutahar seperti "mendapat durian runtuh" karena berarti ia bisa melanjutkan gagasannya membentuk pasukan yang terdiri dari para pemuda dari seluruh Indonesia.

Mutahar lalu menyusun ulang dan mengembangkan formasi pengibaran dengan membagi pasukan menjadi tiga kelompok, yakni Kelompok 17 (Pengiring/ Pemandu), Kelompok 8 (Pembawa/Inti) dan Kelompok 45 (Pengawal). Formasi ini merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia Republik Indonesia 17 Agustus 1945 (17-8-45).
Mutahar berpikir keras dan mencoba mensimulasikan keberadaan pemuda utusan daerah dalam gagasannya, karena dihadapkan pada kenyataan saat itu bahwa belum mungkin untuk mendatangkan mereka ke Jakarta. Akhirnya diperoleh jalan keluar dengan melibatkan putra-putri daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran bendera pusaka.

Semula, Mutahar berencana untuk mengisi personil kelompok 45 (Pengawal) dengan para taruna Akademi Ang-katan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) sebagai wakil generasi muda ABRI. Tapi sayang, waktu liburan perkuliahan yang tidak tepat dan masalah transportasi dari Magelang ke Jakarta menjadi kendala, sehingga sulit terwujud.

Usul lain untuk menggunakan anggota Pasukan Khusus ABRI seperti RPKAD (sekarang Kopassus), PGT (sekarang Paskhas), Marinir dan Brimob, juga tidak mudah dalam koordinasinya. Akhirnya, diambil jalan yang paling mudah yaitu dengan merekrut anggota Pasukan Pengawal Presiden (Paswalpres), atau sekarang Paspampres, yang bisa segera dikerahkan, apalagi sehari-hari mereka memang bertugas di lingkungan Istana.

Pada tanggal 17 Agustus 1968, apa yang tersirat dalam benak Husain Mutahar akhirnya menjadi kenyataan. Setelah tahun sebelumnya diadakan ujicoba, maka pada tahun 1968 dida-tangkanlah pada pemuda utusan daerah dari seluruh Indonesia untuk mengibar-kan bendera pusaka.

Selama enam tahun, 1967-1972, bendera pusaka dikibarkan oleh para pemuda utusan daerah dengan sebutan "Pasukan Penggerek Bendera". Pada tahun 1973, Drs Idik Sulaeman yang menjabat Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan di Departemen Pendidikan dan Kebu-dayaan (P&K) dan membantu Husain Mutahar dalam pembinaan latihan me-lontarkan suatu gagasan baru tentang nama pasukan pengibar bendera pusaka.
Mutahar yang tak lain mantan pembina penegak Idik di Gerakan Pramuka setuju. Maka, kemudian meluncurlah sebuah nama antik berbentuk akronim yang agak sukar diucapkan bagi orang yang pertama kali menyebutnya: PASKIBRAKA, yang merupakan singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.

Memang, Idik Sulaeman yang memberi nama Paskibraka. Tapi pada hakekatnya penggagas Paskibraka tetaplah Husein Mutahar, sehingga ia sangat pantas diberi gelar "Bapak Paskibraka".

In Memoriam Bunda Bunakim

"Terlalu indah dilupakan
terlalu sedih dikenangkan
setelah aku jauh berjalandan kau kutinggalkan

Betapa hatiku bersedih
mengenang kasih dan sayangmu
setulus pesanmu kepadaku
dan kau kan menunggu

Andai kan kau datang kembali,
jawaban apa yang kan ku beri,
adakah jalan yang kutemui
untuk kita kembali lagi

Bersinarlah bulan purnama
seindah serta tulus cintanya
bersinarlah terus sampai nanti
lagu ini ku akhiri."


Sayup-sayup terdengar lagu dari suara lembut Ruth Sahanaya. Anganku melambung, mengenang seorang wanita lain yang tetap hadir dalam hatiku selain ibu dan istriku. Dialah Bundaku, Bunda Boenakim, Bunda Paskibraka yang sudah berpulang menghadap Sang Pencipta pada suatu pagi, tanggal 1 Juli 2005. Tahun 1978 aku mengenal Bunda dan menjadi anaknya untuk waktu tak sampai sebulan. Tapi, sepulangnya dari asrama Paskibraka, bagiku ia tetap menjadi Bunda, begitu pula bagi semua Purna Paskibraka yang berjumlah lebih dari seribu orang. Di mata anak didiknya, Bunda adalah ibu yang baik, penuh perhatian dan cinta. Semua orang menyayanginya dan selalu terkenang akan sapaannya yang akrab dan bersahaja.Bunda Boenakim tidak pernah mau merepotkan orang lain. Selalu bertutur ramah dan sumringah dengan siapapun, walau jari jemari tangannya yang keriput tetap sibuk dengan benang dan jarum menjahit pakaiannya sendiri. Bunda yang sederhana adalah sosok pembina yang sangat akrab di asrama maupun di mana saja kita bertemu. Teman ngobrol yang enak, karena selalu nyambung. Memberikan petuah tentang kehidupan dengan bahasa yang lugas dan menunjukkan tauladan hidup yang membumi. Bunda selalu tersenyum setiap waktu. Jarang sekali dia marah, namun dia akan benarbenar marah jika ada yang menginjak-nginjak harga diri anak-anaknya. Termasuk ketika anggota Paskibraka diperlakukan dengan salah dan seenaknya oleh para pelatih dari militer. Tetapi, dengan penuh cinta ia mau memberi maaf setelah para pelatih sadar dan mau mengubah sikap mereka yang salah.

Suatu saat, aku pernah sama-sama naik bis kota dengan Bunda. Dengan sigap dan lincah di usia yang tergolong lanjut, ia mencari tempat kosong di tingah himpitan penumpang yang berjubel. Dengan spontan Bunda mengucapkan terima kasih kepada seorang pelajar yang memberinya tempat duduk. Ketulusan dan pesona Bunda begitu membekas, terlebih ucapan lembutnya setiap malam di asrama, saat mengantar anggota Paskibraka menuju peraduan. Dia selalu mengingatkan agar kita selalu hormat dan patuh kepada orangtua dan kepada orang yang lebih tua, di manapun kita berada. Bunda mengingatkan kita agar selalu berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk kesehatan dan kebahagiaan orangtua. Dia mengajari kita untuk terus berbakti kepada Ibu Pertiwi dan kepada semua ibu yang melahirkan kita. Dengan kesederhaan Bunda mengajari kita akan hidup yang penuh perjuangan dan jangan pernah berputus asa. Sama seperti cerita perjuangan Bunda saat menghadapi suami yang wafat di pangkuannya. Dengan tabah dantulus serta tawakal, Bunda menyerahkan jiwa suaminya kehadirat Yang Maha Kuasa untuk kemuliaan bumi Indonesia. Begitu banyak kenangan indah yang Bunda ajarkan kepada kita dan kita belum bisa mengikuti semua teladan yang ditunjukkannya. Semoga Bunda sekarang berada di alam kelanggengan dengan penuh kebahagian sesuai amal dan ibadah yang begitu indah dan penuh warna. Sekarang, aku semakin tahu bahwa Bunda Boenakim dengan tulus ikhlas sangat mengasihi kita. Semua dilakukan dengan teladan citra diri dan kasih sejati. Bunda, memang selalu mengajari serta membina dengan hati dan cinta.

H. Mutahar - Sang Penyelamat Bendera Pusaka

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan pada hah Jum'at, 17 Agustus 1945, jam 10.00 pagi, di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Setelah pernyataan kemer­dekaan Indonesia, untuk pertama kali se-cara resmi bendera kebangsaan merah putih dikibarkan oleh dua orang pemuda, Latief Hendraningrat dan Suhud. Bende­ra ini dijahit tangan oleh Ibu Fatmawati Soekarno dan bendera ini pula yang ke-mudian disebut "bendera pusaka".

Bendera pusaka berkibar siang dan malam di tengah hujan tembakan sampai Ibukota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Pada tanggal 4 Januari 1946, karena aksi teror yang dilakukan Belanda semakin meningkat, presiden dan wakil presiden Republik Indonesia dengan menggunakan kereta api me-ninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta. Bendera pusaka dibawa ke Yogyakarta dan dimasukkan dalam koper pribadi Soekarno. Selanjutnya, ibukota dipin­dahkan ke Yogyakarta.

Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresinya yang kedua. Pre­siden, wakil presiden dan beberapa peja-bat tinggi Indonesia akhirnya ditawan Belanda. Namun, pada saat-saat genting dimana Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta dikepung oleh Belanda, Soe­karno sempat memanggil salah satu ajudannya, Mayor M. Husein Mutahar. Sang ajudan lalu ditugaskan untuk untuk menyelamatkan bendera pusaka. Penye-lamatan bendera pusaka ini merupakan salah satu bagian "heroik" dari sejarah tetap berkibarnya Sang Merah putih di persada bumi Indonesia. Saat itu, Soe­karno berucap kepada Mutahar:

"Apa yang terjadi terhadap diriku, aku sendiri tidak tahu. Dengan ini aku mem-berikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun juga, aku memerintah-kan kepadamu untuk menjaga bendera kita dengan nyawamu. Ini tidak boleh ja-tuh ke tangan musuh. Di satu waktu, jika Tuhan mengizinkannya engkau me-ngembalikannya kepadaku sendiri dan tidak kepada siapa pun kecuali kepada orang yang menggantikanku sekiranya umurku pendek. Andaikata engkau gugur dalam menyelamatkan bendera ini, per-cayakanlah tugasmu kepada orang lain dan dia harus menyerahkannya ke ta-nganku sendiri sebagaimana engkau mengerjakannya."

Sementara di sekeliling mereka bom berjatuhan dan tentara Belanda terus mengalir melalui setiap jalanan kota, Mutahar terdiam. Ia memejamkan mataya dan berdoa, Tanggungjawabnya terasa sungguh berat. Akhirnya, ia berhasil memecahkan kesulitan dengan menca-but benang jahitan yang menyatukan ke­dua bagian merah dan putih bendera itu.

Dengan bantuan Ibu Perna Dinata, ke­dua carik kain merah dan putih itu berha­sil dipisahkan. Oleh Mutahar, kain merah dan putih itu lalu diselipkan di dasar dua tas terpisah miliknya. Seluruh pakaian dan kelengkapan miliknya dijejalkan di atas kain merah dan putih itu. Ia hanya bisa pasrah, dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Yang ada dalam pemikiran Mutahar saat itu hanyalah satu: bagaimana agar pihak Belanda tidak mengenali bendera merah-putih itu sebagai bendera, tapi ha­nya kain biasa, sehingga tidak melaku-kan penyitaan. Di mata seluruh bangsa Indonesia, bendera itu adalah sebuah "prasasti" yang mesti diselamatkan dan tidak boleh hilang dari jejak sejarah.
Benar, tak lama kemudian Presiden Soekarno ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Prapat (kota kecil di pinggir danau Toba) sebelum dipindahkan ke Muntok, Bangka, sedangkan wakil presi­den Mohammad Hatta langsung dibawa Bangka. Mutahar dan beberapa staf ke-presidenan juga ditangkap dan diangkut dengan pesawat Dakota. Ternyata mere­ka dibawa ke Semarang dan ditahan di sana. Pada saat menjadi tahanan kota, Mutahar berhasil melarikan diri dengan naik kapal laut menuju Jakarta.

Di Jakarta Mutahar menginap di rumah Perdana Menteri Sutan Syahrir, —yang sebelumnya tidak ikut mengungsi ke Yogyakarta. Beberapa hari kemudian, ia kost di Jalan Pegangsaan Timur 43, di rumah Bapak R. Said Soekanto Tjokrodiatmodjo (Kepala Kepolisian RI yang pertama).
Selama di Jakarta Mutahar selalu mencari informasi dan cara, bagaimana bisa segera menyerahkan bendera pusa­ka kepada presiden Soekarno. Pada su-atu pagi sekitar pertengahan bulan Juni 1948, akhirnya ia menerima pemberita-huan dari Sudjono yang tinggal di Oranje Boulevard (sekarang Jalan Diponegoro) Jakarta. Pemberitahuan itu menyebutkan bahwa ada surat dari Presiden Soekarno yang ditujukan kepadanya.

Sore harinya, surat itu diambil Mutahar dan ternyata memang benar berasal dari Soekarno pribadi. Isinya sebuah perintah agar ia segera menyerahkan kembali bendera pusaka yang dibawanya dari Yogya kepada Sudjono, agar dapat diba­wa ke Bangka. Bung Karno sengaja tidak memerin-tahkan Mutahar sendiri datang ke Bang­ka dan menyerahkan bendera pusaka itu langsung kepadanya. Dengan cara yang taktis, ia menggunakan Soedjono sebagai perantara untuk menjaga kera-hasiaan perjalanan bendera pusaka dari Jakarta ke Bangka.
Itu tak lain karena dalam pengasingan, Bung Karno hanya boleh dikunjungi oleh anggota delegasi Republik Indonesia dalam perundingan dengan Belanda di bawah pengawasan UNCI (United Na­tions Committee for Indonesia). Dan Su­djono adalah salah satu anggota dele­gasi itu, sedangkan Mutahar bukan.

Setelah mengetahui tanggal keberangkatan Soedjono ke Bangka, Muta­har berupaya menyatukan kembali ke­dua helai kain merah dan putih dengan meminjam mesin jahit tangan milik seo-rang istri dokter —yang ia sendiri lupa namanya. Bendera pusaka yang tadinya terpisah dijahitnya persis mengikuti lubang bekas jahitan tangan Ibu Fatmawati. Tetapi sayang, meski dilakukan dengan hati-hati, tak urung terjadi juga kesalahan jahit sekitar 2 cm dari ujungnya.

Dengan dibungkus kertas koran agar tidak mencurigakan, selanjutnya bende­ra pusaka diberikan Mutahar kepada Soedjono untuk diserahkan sendiri kepa­da Bung Karno. Hal ini sesuai dengan perjanjian Bung Karno dengan Mutahar sewaktu di Yogyakarta. Dengan diserahkannya bendera pusaka kepada orang yang diperintahkan Bung Karno maka selesailah tugas penyelamatan yang dilakukan Husein Mutahar. Sejak itu, sang ajudan tidak lagi menangani masalah pengibaran bendera pusaka.

Tanggal 6 Juli 1949, Presiden Soekar­no dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kembali ke Yogyakarta dari Bangka de­ngan membawa serta bendera pusaka. Tanggal 17 Agustus 1949, bendera pu­saka dikibarkan lagi di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.

Naskah pengakuan kedaulatan lndo­nesia ditandatangani 27 Desember 1949 dan sehari setelah itu Soekamo kembali ke Jakarta untuk memangku jabatan Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS). Setelah empat tahun ditinggalkan, Jakarta pun kembali menjadi ibukota Republik Indonesia. Hari itu juga, ben­dera pusaka dibawa kembali ke Jakarta.
Untuk pertama kalinya setelah Prok­lamasi bendera pusaka kembali dikibar­kan di Jakarta pada peringatan Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1950.